Kehidupan dan Kegilaan
Dia kutemui di kelurahan Sempur Bogor
Sedang menghitung uang, ya uang...uang palsu..
Terdengar dari ujung kanan dan kiri bibirnya, suara angka-angka yang tidak jelas
dalam genggamannya terkepal lembaran berbagai nilai puluhan ribu dan satuan ribu rupiah. Hitungannya tidak pernah selesai, dan selalu berputar kembali dan bertambah ..
Tempatku disini,
ku bertahan untuk hidup
telah kulewati semua hal yang rasional dan waras
Mengecap pengalaman yang takkan terlupakan dan hingga kematian meninggalkan benak dan akal yang selalu hidup
Biarkanku dengan alamku,
Uruslah perilaku dan moralmu,
Alamku duniaku bukan mu
dan aku bukan juga kamu dan dia
Saat semua wilayah telah dimiliki atau diklaim
Aku telah meklaim alam ini jadi bagian dari nafasku..
Saat semua berebut mengakui, aku telah mengakui akan kehidupanku..
Sejak semua orang mengklaim diriku, klaim ku kepada semesta alam menjadi saksi kehidupanku..
Kepada semesta langit dan bumi aku bersaksi..dan mengakuinya, tiada batas antara gila dan normal..
Kutinggalkan semuanya..
Kutinggalkan keluargaku..
Kutinggalkan tempat tidurku..
Kutinggalkan kandangku..
Kutinggalkan habitatku..
Ke alam nan jauh menantang
Ke impian yang tak jua tiba..
Ke kehidupan yang sangat nyata
Meradang menikmati hidup dalam dekapan malam ditemani resonansi kayu berdawai nan bergoyang ditemani rembulan setengah redup
Mengecup sambutan pagi bersama embun..
Menyambut asap kenalpot bersama deru sepatu dan sandal saling berlomba menjejak
Menggeliat diantara pada pengasong dan penjual cerita
Berteriak ......
Melawan Kehidupan..
Melawan Kematian..
Bersama dengan kantong bungkus permen..dengan selalu bersama sisa isinya yang tidak jua bersisa..dan selalu terisi dari meng-iba atau terganggu, bahkan terhibur
Berputar bersama
Mengayun bersama
Bersenandung sama-sama
kehidupan dan peradaban yang tiada dua..
nikmat tegup kehidupan kutinggalkan belaian kenikmatan duniawi..
nikmat tegup kehidupan kutinggalkan belaian kenikmatan duniawi..
Sudah muak dengan pembicaraan moral dan kesusilaan..terlalu banyak diperguncingkan...terlalu bosan untuk dibicarakan..
Tapi, sebenarnya tidak terlalu sibuk untuk dilakukan
Prilaku moral, sikap mental, kedaulatan, kebudayaan, martabat..arrrrrrkh
Mengapa selalu dikelompokkan,
Otakku, pikiraanku, khayalku, mimpiku, harapanku, dan..
Apa pedulimu..peduli apa, peduli siapa..
Siapa berkenan atau tak peduli..tak mengira, tak kupungkiri, peduli-peduli dan arrrrkh tidak peduli..
Situ bilang situ melindungi saya..
Siang-malam saya melayani anda..
Sampai dekil badan saya..
Kumal kelakuan bukan saya tidak loyal..
tapi..
apa arti kami bagi anda..
penguasa negeri..
pengatur kami..
Biarkan ku terlelap disini usai babak yang keberapa ku lupa..
Tinggalkan sejenak perkara kita..
Biarkan ku sejenak..sejenak untuk terlelap..
Sehingga dapat kulupakan janji-janji mu melindungiku..
Biarlah ku bermimpi mendapat perlindunganNya..biarkan ku terlelap sejenak..
Ku takut esok kan tak ada
matahari terbit di selatan
semua akan menyapa ketiadaan
tiada beban menyelimuti perut dan kulitku..
Kujaga semua nikmat itu
dengan sendok dan garpu kusiapkan menanti serta..
Kepada khalik penjaga kehidupan
Kuserahkan nafas dan langkahku kepada semesta alam..
Semua elemen kehidupan berseru kepada hembusan itu..
dengan ukuran lebih dari sesuap harapan
dan sesuap kehidupan untuk waktu selanjutnya
ku berikrar kepadaMu alam..
Kepribadian dan Motivasi
Posted by
agungpsiko
, Saturday, February 13, 2010 at 1:17 AM, in
Labels:
teori-teori motivasi
Teori Belajar Skiner
Kepribadian dan belajar
Hakikat teori skinner adalah teori belajar, bagaimana individu menjadi
memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil,
menjadi lebih tahu. Dia yakin bahwa kepribadian dapat dipahami
dengan mempertimbangkan tingkah laku dalam hubungannya yang
terus menerus dengan lingkungannya. Cara yang paling efektif untuk
mengubah dawn mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan
penguatan (reinforment), suatu strategi kegiatan yang membuat tingkah laku tertentu
berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya (berpeluang tidak terjadi) pada masa
yang akan datang. Konsep dasarnya sangat sederhana yakni semua tingkah laku
dapat dikontrol.
Tingkah laku Kontrol Diri
Prinsip dasar pendekatan skinner adalah : Tingkah laku disebabkan dan dipengaruhi
oleh variabel eksternal. Tidak ada dalam diri manusia,
tidak ada bentuk kegiatan eksternal, yang mempengaruhi tingkah laku.
Pengertian kontrol diri ini bukan mengontrol kekuatan di dalam “self”,
tetapi bagaimana self mengontrol variabel-variabel luar yang menentukan tingkah laku.
Stimulan Aversif
Stimulasi aversif adalah lawan dari stimulant penguatan, sesuatu yang
tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan.
“Perilaku yang diikuti oleh stimulant aversif akan memperkecil kemungkinan
diulanginya perilaku tersebut pada masa-masa selanjutnya.”
Definisi ini sekaligus menggambarkan bentuk pengkondisian yang dikenal
dengan hukuman.
Kondisioning Klasik (Classical Conditioning)
Kondisioning klasik, disebut juga kondisioning responden karena tingkah laku dipelajari
dengan memanfaatkan hubungan stimulus-respon yang bersifat refleksbawaan.
Kondisioning Operan (Operant Conditioning)
Reinforser tidak diasosiasikan dengan stimulus yang dikondisikan, tetapi diasosiasikan
dengan respon karena respon itu sendiri beroperasi memberi reinsforment.
Skinner menyebut respon itu sebagai tingkah laku operan (operant behavior).
Tingkah laku responden adalah tingkah laku otomatis atau refleks, yang dalam
kondisioning klasik respon diusahakan dapat
dimunculkan dalam situasi yang lain dengan situasi aslinya.
Tingkah laku operan mungkin belum pernah dimiliki individu,
tetapi ketika orang melakukannya dia mendapat hadiah.
Respon operan itu mendapat reinforcement, sehingga berpeluang untuk lebih sering terjadi.
Kondisioning operan tidak tergantung pada tingkah laku otomatis
atau refleks, sehingga jauh lebih fleksibel dibanding kondisioning klasik.
Teori ini mengamati pelbagai perilaku orang yang memang diasumsikan bisa diukur :
1. Jika seseorang memperoleh apa yang diinginkan, maka "penghargaan positif meningkatkan
kinerja" (R+) 2. Jika seseorang menghindari apa yang tidak
diinginkan, maka "penghargaan negatif meningkatkan kinerja"
(R ) 3. Jika seseorang memperoleh apa yang tidak diinginkan,
maka "hukuman menurunkan kinerja" (P+) 4. Jika seseorang tidak
memperoleh apa yang diinginkan, maka "ancaman pemecatan menurunkan kinerja" (P )
Teori Efek Thorndike Manusia Pencari Kesenangan
Teori ini menyatakan bahwa jika yang dilakukan seseorang menyenangkan,
ia akan lebih sering melakukannya; jika perilakunya buruk,
ia pasti tidak akan mengulanginya.
Jadi perilaku akan semakin melekat pada diri seseorang apabila:
1. Kesenangan atau kepedihan muncul seketika akibat suatu perilaku.
2. Kesenangan atau kepedihan tersebut terjadi berulang ulang.
3. Kesenangan atau kepedihan tersebut benar-benar dirasakan oleh orang tersebut.
Teori Analisis Transaksional Eric Berne Manusia Bermental Transaksi
Teori ini menyatakan bahwa salah satu motivator paling mendasar dan paling
kuat bagi manusia adalah dihargai secara positif;
menerima pengakuan pribadi dari orang lain. Seseorang membutuhkan "rangsangan"
dari orang lain agar merasa puas secara emosional dan psikologis.
Jika rangsangan positif tidak diberikan, mereka yang haus akan rangsangan ini akan
semakin sulit diatur dan mengganggu hanya untuk mencari perhatian.
Bahkan rangsangan negatif lebih baik dari pada diabaikan atau
tidak menerima rangsangan sama sekali.
Teori Tujuan Manusia Bermental Sepak Bola
Teori ini menyatakan bahwa mencapai tujuan adalah sebuah motivator.
Hampir setiap orang menyukai kepuasan kerja karena mencapai sebuah tujuan spesifik.
Saat seseorang menentukan tujuan yang jelas, kinerja biasanya meningkat sebab:
• Ia akan berorientasi pada hal hal yang diperlukan
• Ia akan berusaha keras mencapai tujuan tersebut
• Tugas tugas sebisa mungkin akan diselesaikan
• Semua jalan untuk mencapai tujuan pasti ditempuh
Bawahan harus menyetujui dan menerima tujuan itu.
Bila mereka berpikir sebuah tujuan terlalu sulit atau tidak penting,
ia tidak akan ter-motivasi untuk mencapainya.
Teori Kelompok Manusia Sosial
Teori ini menyatakan bahwa suatu kelompok kerja cenderung
menerapkan norma norma produksi mereka sendiri, dan memastikan anggota baru
mereka untuk mengikuti aturan yang dibuat kelompok ter-sebut.
Untuk melakukan hal ini, kelompok biasanya memakai beragam mekanisme
sosial agar anggota baru tidak berproduksi secara berlebihan atau kurang.
Teori Dua Faktor Manusia Berkembang
Teori ini menyatakan bahwa "kepuasan" dan "ketidakpuasan" adalah
dua vektor yang berbeda. Seseorang dapat menghindari ketidakpuasan,
tetapi hal ini belum tentu memberi kepuasan.
Pemuas : Pekerjaan menarik, Pekerjaan menantang,
Kesempatan berprestasi, Penghargaan, Promosi jabatan.
Faktor Darurat: Gaji, Pengawasan, Kondisi kerja, Keamanan kerja, Status.
Teori Proses dengan asumsi:
• Perilaku ditentukan oleh pelbagai macam factor
• Setiap orang memutuskan sendiri perilaku mereka dalam organisasi
• Setiap orang memiliki jenis kebutuhan, keinginan, dan tujuan
yang berbeda beda dengan orang lain • Setiap orang memilih rencana perilaku berdasarkan
persepsi (harapan) seberapa jauh perilaku tersebut akan mencapai hasil yang diharapkan
Model Teori Lawler Manusia Pengharap
Teori ini menyatakan. bahwa bawahan harus diarahkan pada peng-hargaan di masa yang
akan datang, dari pada belajar dari masa lalu.
Bila mereka melihat kemungkinan adanya penghargaan berdasarkan usaha mereka itu,
mereka akan semakin bekerja keras, kinerja meningkat dan penghargaan pun diberikan.
Akibatnya, hal ini memberi kepuasan yang meningkatkan usaha.
Teori Kecenderungan dengan asumsi:
• Setiap orang berbeda
• Kepribadian berdampak pada motivasi
• Setiap orang memiliki kebutuhannya sendiri sendiri
Teori Tiga Kebutuhan McClelland - Manusia Prestasi
Teori ini menyatakan bahwa bawahan menginginkan 3 (tiga) hal dari pekerjaannya:
• Prestasi (need of achievement) - n-Ach
• Kekuasaan (need of power) - n-Power
• Perhatian (need of affection) - n-Aff
Teori Percaya Diri Manusia Yang Membatasi Diri
Teori ini menyatakan bahwa bawahan hanya dapat berhasil
mencapai target yang mereka yakini dapat mereka capai.
Teori Keadilan J. Stacy Adam Manusia Adil
Teori ini menyatakan bahwa ketika kita membandingkan dengan orang lain dan
kita merasa lebih buruk. Kita melihat situasi kita sebagai kurang adil.
Bukan hanya merasa frustrasi, motivasi pun terpengaruh. Ada dua kemungkinan tanggapan:
• Mengurangi usaha sehingga penghargaan tampak adil (menurunkan motivasi)
• Berusaha meningkatkan penghargaan/pendapatan (meningkat-kan motivasi)
Bila itu tidak mungkin, kita menghapus kekecewaan dengan
meng-undurkan diri dari organisasi tsb.
Teori Valensi Manusia Penjudi
Teori ini menyatakan bahwa manusia cenderung membuat
pilihan dan mengambil risiko yang tersedia.
Ia akan memilih perilaku yang akan memberinya hasil terbaik sesuai dengan apa yang diinginkan.
Teori ini memungkinkan seseorang membuat keputusan secara sadar.
Ada 3 (tiga) elemen penting:
• Hasil akibat apa yang mungkin timbul dari suatu perilaku
• Valensi seberapa baik atau menarikkan hasil tersebut?
• Harapan jika saya lakukan hal ini, akankah saya memperoleh hasil itu?
. TEORI MOTIVASI VROOM (1964)
Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan
mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat
melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan.
Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh
tiga komponen, yaitu: • Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
• Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi
jika berhasil dalam melakukan suatu tugas
(keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu). • Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif,
netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu
yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan
kurang dari yang diharapkan
TEORI MOTIVASI DOUGLAS McGREGOR
Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori y (positif),
Menurut teori x empat pengandaian yag dipegang manajer
karyawan secara inheren tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja
karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan
hukuman untuk mencapai tujuan.
Karyawan akan menghindari tanggung jawab.
Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua factor yang dikaitkan dengan kerja.
Kontras dengan pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y :
karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya
seperti istirahat dan bermain.
Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika
mereka komit pada sasaran.
Rata rata orang akan menerima tanggung jawab.
Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.
Kepribadian dan belajar
Hakikat teori skinner adalah teori belajar, bagaimana individu menjadi
memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil,
menjadi lebih tahu. Dia yakin bahwa kepribadian dapat dipahami
dengan mempertimbangkan tingkah laku dalam hubungannya yang
terus menerus dengan lingkungannya. Cara yang paling efektif untuk
mengubah dawn mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan
penguatan (reinforment), suatu strategi kegiatan yang membuat tingkah laku tertentu
berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya (berpeluang tidak terjadi) pada masa
yang akan datang. Konsep dasarnya sangat sederhana yakni semua tingkah laku
dapat dikontrol.
Tingkah laku Kontrol Diri
Prinsip dasar pendekatan skinner adalah : Tingkah laku disebabkan dan dipengaruhi
oleh variabel eksternal. Tidak ada dalam diri manusia,
tidak ada bentuk kegiatan eksternal, yang mempengaruhi tingkah laku.
Pengertian kontrol diri ini bukan mengontrol kekuatan di dalam “self”,
tetapi bagaimana self mengontrol variabel-variabel luar yang menentukan tingkah laku.
Stimulan Aversif
Stimulasi aversif adalah lawan dari stimulant penguatan, sesuatu yang
tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan.
“Perilaku yang diikuti oleh stimulant aversif akan memperkecil kemungkinan
diulanginya perilaku tersebut pada masa-masa selanjutnya.”
Definisi ini sekaligus menggambarkan bentuk pengkondisian yang dikenal
dengan hukuman.
Kondisioning Klasik (Classical Conditioning)
Kondisioning klasik, disebut juga kondisioning responden karena tingkah laku dipelajari
dengan memanfaatkan hubungan stimulus-respon yang bersifat refleksbawaan.
Kondisioning Operan (Operant Conditioning)
Reinforser tidak diasosiasikan dengan stimulus yang dikondisikan, tetapi diasosiasikan
dengan respon karena respon itu sendiri beroperasi memberi reinsforment.
Skinner menyebut respon itu sebagai tingkah laku operan (operant behavior).
Tingkah laku responden adalah tingkah laku otomatis atau refleks, yang dalam
kondisioning klasik respon diusahakan dapat
dimunculkan dalam situasi yang lain dengan situasi aslinya.
Tingkah laku operan mungkin belum pernah dimiliki individu,
tetapi ketika orang melakukannya dia mendapat hadiah.
Respon operan itu mendapat reinforcement, sehingga berpeluang untuk lebih sering terjadi.
Kondisioning operan tidak tergantung pada tingkah laku otomatis
atau refleks, sehingga jauh lebih fleksibel dibanding kondisioning klasik.
Teori ini mengamati pelbagai perilaku orang yang memang diasumsikan bisa diukur :
1. Jika seseorang memperoleh apa yang diinginkan, maka "penghargaan positif meningkatkan
kinerja" (R+) 2. Jika seseorang menghindari apa yang tidak
diinginkan, maka "penghargaan negatif meningkatkan kinerja"
(R ) 3. Jika seseorang memperoleh apa yang tidak diinginkan,
maka "hukuman menurunkan kinerja" (P+) 4. Jika seseorang tidak
memperoleh apa yang diinginkan, maka "ancaman pemecatan menurunkan kinerja" (P )
Teori Efek Thorndike Manusia Pencari Kesenangan
Teori ini menyatakan bahwa jika yang dilakukan seseorang menyenangkan,
ia akan lebih sering melakukannya; jika perilakunya buruk,
ia pasti tidak akan mengulanginya.
Jadi perilaku akan semakin melekat pada diri seseorang apabila:
1. Kesenangan atau kepedihan muncul seketika akibat suatu perilaku.
2. Kesenangan atau kepedihan tersebut terjadi berulang ulang.
3. Kesenangan atau kepedihan tersebut benar-benar dirasakan oleh orang tersebut.
Teori Analisis Transaksional Eric Berne Manusia Bermental Transaksi
Teori ini menyatakan bahwa salah satu motivator paling mendasar dan paling
kuat bagi manusia adalah dihargai secara positif;
menerima pengakuan pribadi dari orang lain. Seseorang membutuhkan "rangsangan"
dari orang lain agar merasa puas secara emosional dan psikologis.
Jika rangsangan positif tidak diberikan, mereka yang haus akan rangsangan ini akan
semakin sulit diatur dan mengganggu hanya untuk mencari perhatian.
Bahkan rangsangan negatif lebih baik dari pada diabaikan atau
tidak menerima rangsangan sama sekali.
Teori Tujuan Manusia Bermental Sepak Bola
Teori ini menyatakan bahwa mencapai tujuan adalah sebuah motivator.
Hampir setiap orang menyukai kepuasan kerja karena mencapai sebuah tujuan spesifik.
Saat seseorang menentukan tujuan yang jelas, kinerja biasanya meningkat sebab:
• Ia akan berorientasi pada hal hal yang diperlukan
• Ia akan berusaha keras mencapai tujuan tersebut
• Tugas tugas sebisa mungkin akan diselesaikan
• Semua jalan untuk mencapai tujuan pasti ditempuh
Bawahan harus menyetujui dan menerima tujuan itu.
Bila mereka berpikir sebuah tujuan terlalu sulit atau tidak penting,
ia tidak akan ter-motivasi untuk mencapainya.
Teori Kelompok Manusia Sosial
Teori ini menyatakan bahwa suatu kelompok kerja cenderung
menerapkan norma norma produksi mereka sendiri, dan memastikan anggota baru
mereka untuk mengikuti aturan yang dibuat kelompok ter-sebut.
Untuk melakukan hal ini, kelompok biasanya memakai beragam mekanisme
sosial agar anggota baru tidak berproduksi secara berlebihan atau kurang.
Teori Dua Faktor Manusia Berkembang
Teori ini menyatakan bahwa "kepuasan" dan "ketidakpuasan" adalah
dua vektor yang berbeda. Seseorang dapat menghindari ketidakpuasan,
tetapi hal ini belum tentu memberi kepuasan.
Pemuas : Pekerjaan menarik, Pekerjaan menantang,
Kesempatan berprestasi, Penghargaan, Promosi jabatan.
Faktor Darurat: Gaji, Pengawasan, Kondisi kerja, Keamanan kerja, Status.
Teori Proses dengan asumsi:
• Perilaku ditentukan oleh pelbagai macam factor
• Setiap orang memutuskan sendiri perilaku mereka dalam organisasi
• Setiap orang memiliki jenis kebutuhan, keinginan, dan tujuan
yang berbeda beda dengan orang lain • Setiap orang memilih rencana perilaku berdasarkan
persepsi (harapan) seberapa jauh perilaku tersebut akan mencapai hasil yang diharapkan
Model Teori Lawler Manusia Pengharap
Teori ini menyatakan. bahwa bawahan harus diarahkan pada peng-hargaan di masa yang
akan datang, dari pada belajar dari masa lalu.
Bila mereka melihat kemungkinan adanya penghargaan berdasarkan usaha mereka itu,
mereka akan semakin bekerja keras, kinerja meningkat dan penghargaan pun diberikan.
Akibatnya, hal ini memberi kepuasan yang meningkatkan usaha.
Teori Kecenderungan dengan asumsi:
• Setiap orang berbeda
• Kepribadian berdampak pada motivasi
• Setiap orang memiliki kebutuhannya sendiri sendiri
Teori Tiga Kebutuhan McClelland - Manusia Prestasi
Teori ini menyatakan bahwa bawahan menginginkan 3 (tiga) hal dari pekerjaannya:
• Prestasi (need of achievement) - n-Ach
• Kekuasaan (need of power) - n-Power
• Perhatian (need of affection) - n-Aff
Teori Percaya Diri Manusia Yang Membatasi Diri
Teori ini menyatakan bahwa bawahan hanya dapat berhasil
mencapai target yang mereka yakini dapat mereka capai.
Teori Keadilan J. Stacy Adam Manusia Adil
Teori ini menyatakan bahwa ketika kita membandingkan dengan orang lain dan
kita merasa lebih buruk. Kita melihat situasi kita sebagai kurang adil.
Bukan hanya merasa frustrasi, motivasi pun terpengaruh. Ada dua kemungkinan tanggapan:
• Mengurangi usaha sehingga penghargaan tampak adil (menurunkan motivasi)
• Berusaha meningkatkan penghargaan/pendapatan (meningkat-kan motivasi)
Bila itu tidak mungkin, kita menghapus kekecewaan dengan
meng-undurkan diri dari organisasi tsb.
Teori Valensi Manusia Penjudi
Teori ini menyatakan bahwa manusia cenderung membuat
pilihan dan mengambil risiko yang tersedia.
Ia akan memilih perilaku yang akan memberinya hasil terbaik sesuai dengan apa yang diinginkan.
Teori ini memungkinkan seseorang membuat keputusan secara sadar.
Ada 3 (tiga) elemen penting:
• Hasil akibat apa yang mungkin timbul dari suatu perilaku
• Valensi seberapa baik atau menarikkan hasil tersebut?
• Harapan jika saya lakukan hal ini, akankah saya memperoleh hasil itu?
. TEORI MOTIVASI VROOM (1964)
Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan
mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat
melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan.
Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh
tiga komponen, yaitu: • Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
• Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi
jika berhasil dalam melakukan suatu tugas
(keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu). • Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif,
netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu
yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan
kurang dari yang diharapkan
TEORI MOTIVASI DOUGLAS McGREGOR
Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori y (positif),
Menurut teori x empat pengandaian yag dipegang manajer
karyawan secara inheren tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja
karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan
hukuman untuk mencapai tujuan.
Karyawan akan menghindari tanggung jawab.
Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua factor yang dikaitkan dengan kerja.
Kontras dengan pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y :
karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya
seperti istirahat dan bermain.
Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika
mereka komit pada sasaran.
Rata rata orang akan menerima tanggung jawab.
Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.
TEORI-TEORI DALAM PSIKOLOGI KEPRIBADIAN
Posted by
agungpsiko
, Friday, February 5, 2010 at 11:09 AM, in
Labels:
teori kepribadian
Kata personality dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Yunani kuno prosopon atau persona, yang artinya ‘topeng’ yang biasa dipakai artis dalam theater. Para artis itu bertingkah laku sesuai dengan ekspresi topeng yang dipakainya, seolah-olah topeng itu mewakili ciri kepribadian tertentu. Jadi konsep awal pengertian personality (pada masyarakat awam) adalah tingkah laku yang ditampakkan ke lingkungan sosial- kesan mengenai diri yang diinginkan agar dapat ditangkap oleh lingkungan sosial.
Ada beberapa kata atau istilah yang oleh masyarakat diperlakukan sebagai sinonim kata personality, namun ketika istilah-istilah itu dipakai di dalam teori kepribadian diberi makna berbeda-beda. Istilah yang berdekatan maknanya antara lain :
Personality (kepribadian); penggambaran perilaku secara deskriptif tanpa memberi nilai (devaluative)
Character (karakter); penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara ekspilit maupun implisit.
Disposition (watak); karakter yang telah dimiliki dan sampai sekarang belum berubah.
Temperament (temperament); kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologic atau fisiologik, disposisi hereditas.
Traits (sifat); respons yang senada (sama) terhadap kelompok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu yang (relatif) lama.
Type-Attribute (ciri): mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimulasi yang lebih terbatas.
Habit (kebiasaan): respon yang sama cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula.
Sampai sekarang, masih belum ada batasan formal personality yang mendapat pengakuan atau kesepakatan luas dilingkungan ahli kepribadian. Masing-masing pakar kepribadian membuat definisi sendiri-sendiri sesuai dengan paradigma yang mereka yakini dan fokus analisis dari teori yang mereka kembangkan. Berikut adalah beberapa contoh definisi kepribadian:
Kepribadian adalah nilai sebagai stimulus sosial, kemampuan menampilkan diri secara mengesankan (Hilgard & Marquis)
Kepribadian adalah kehidupan seseorang secara keseluruhan, individual, unik, usaha mencapai tujuan, kemampuannya bertahan dan membuka diri, kemampuan memperoleh pengalaman (Stern)
Kepribadian adalah organisasi dinamik dalam sistem psikofisiologik seorang yang menentukan model penyesuaiannya yang unik dengan lingkungannya (Allport)
Kepribadian adalah pola trait-trait yang unik dari seseorang (Guilford)
Kepribadian adalah seluruh karakteristik seseorang atau sifat umum banyak orang yang mengakibatkan pola yang menetap dalam merespon suatu situasi (Pervin)
Kepribadian adalah seperangkat karakteristik dan kecenderungan yang stabil, yang menentukan keumuman dan perbedaan tingkah laku psikologik (berpikir, merasa, dan gerakan) dari seseorang dalam waktu yang panjang dan tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai hasil dari tekanan sosial dan tekanan biologic saat itu (Mandy atau Burt)
Kepribadian adalah suatu lembaga yang mengatur organ tubuh, yang sejak lahir sampai mati tidak pernah berhenti terlibat dalam pengubahan kegiatan fungsional (Murray)
Kepribadian adalah pola khas dari fikiran, perasaan, dan tingkah laku yang membedakan orang satu dengan yang lain dan tidak berubah lintas waktu dan situasi (Phares)
Jelas, masing-masing definisi mencoba menonjolkan aspek yang berbeda-beda, dan disusun untuk menjawab tantangan permasalahan yang berbeda. Lebih menguntungkan memahami beberapa teori dan memilih teori yang tepat untuk diterapkan pada masalah yang tepat, disamping tetap memakai teori-teori yang lain sebagai pembanding sehingga keputusan profesional yang diambil seorang psikologi dapat lebih dipertanggung jawabkan. Namun sesungguhnya dari berbagai definisi itu, ada lima persamaan yang menjadi ciri bahwa definisi itu adalah definisi kepribadian, sebagai berikut :
Kepribadian bersifat umum; Kepribadian menunjuk kepada sifat umum seseorang-fikiran, kegiatan, dan perasaan- yang berpengaruh terhadap keseluruhan tingkah lakunya.
Kepribadian bersifat khas: Kepribadian dipakai untuk menjelaskan sifat individu yang membedakan dia dengan orang lain, semacam tanda tangan atau sidik jari psikologik, bagaimana individu berbeda dengan yang lain.
Kepribadian berjangka lama: Kepribadian dipakai untuk menggambarkan sifat individu yang awet, tidak mudah berubah sepanjang hayat. Kalaku terjadi perubahan biasanya bersifat bertahap atau akibat merespon suatu kejadian yang luar biasa.
Kepribadian bersifat kesatuan: Kepribadian dipakai untuk memandang diri sebagai unit tunggal, struktur atau organisasi internal hipotetik yang membentuk suatu kesatuan.
Kepribadian bisa berfungsi baik atau buruk: Kepribadian adalah cara bagaimana orang berada di dunia. Apakah dia tampil dalam tampilan yang baik, kepribadiannya sehat dan kuat? Atau tampil sebagai burung yang lumpuh? Yang berarti kepribadiannya menyimpang atau lemah? Ciri kepribadian sering dipakai untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa orang senang dan mengapa susah, berhasil atau gagal, berfungsi penuh atau berfungsi sekedarnya.
Struktur Kepribadian
Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (Conscious), pra sadar (Preconscious), dan tidak sadar (Unconscious). Alam sadar adalah apa yang anda sadari pada saat tertentu, penginderaan langsung, ingatan, persepsi, pemikiran, fantasy, perasaan yang anda miliki. Terkait erat dengan alam sadar ini adalah apa yang dinamakan Freud dengan alam pra sadar, yaitu apa yang kita sebut dengan saat ini dengan ‘kenangan yang sudah tersedia’ (available memory), yaitu segala sesuatu yang dengan mudah dapat di panggil ke alam sadar, kenangan-kenangan yang walakupun tidak anda ingat waktu berpikir, tapi dapat mudah dengan mudah dipanggil lagi. Adapun bagian terbesar adalah alam bawah sadar (Unconscious mind). Bagian ini mencakup segala sesuatu yang sangat sulit dibawa ke alam bawah sadar, seperti nafsu dan insting kita serta segala sesuatu yang masuk ke situ karena kita tidak mampu menjangkaunya, seperti kenangan atau emosi-emosi yang terkait dengan trauma.
Id (Is [Latin], atau es [Jerman]) Id adalah kepribadian yang dibawa sejak lahir. Dari Id ini akan muncul ego dan super-ego. Saat dilahirkan, Id berisi semua aspek psikologis yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drive. Id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious, mewakili subyektifitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan enerji psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya.
Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu : berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang relatif inaktif atau tingkat energi yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan energi yang mendambakan kepuasan. pleasure principle diproses dengan du acara, tindak refleks (refllex actions) dan proses primer (primary process). Tindak refleks adalah reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejabkan mata-dipakai untuk menangani kepuasan rangsang sederhana dan biasanya dapat segera dilakukan. Proses primer adalah reaksi membayangkan/ mengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan-dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau punting ibunya.
Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu membedakan yang benar dan yang salah, tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberikan kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral. Alasan ini lah yang kemudian membuat Id memunculkan ego.
The Ego (Das Ich [Jerman]), ego berkembang dari Id agar orang mampu menangani realitas; sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle); usaha memperoleh kepuasan yang dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda kenikmatan sampai ditemukan obyek yang nyata-nyata dapat memuaskan kebutuhan.
Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama; pertama, memilih stimulasi mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal. Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan Id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan perkembangan-mencapai-kesempurnaan dari superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan Id, karena itu ego yang tidak memiliki enerji sendiri untuk akan memperoleh enerji dari Id.
The Superego (Das Ueber Ich[Jerman]), adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistic (idealistic principle) sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik dari ego. Superego berkembang dari ego, dan seperti ego dia tidak mempunyai enerji sendiri. Sama dengan ego, superego beroperasi di tiga daerah kesadaran. Namun berbeda dengan ego, dia tidak mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan Id) sehingga kebutuhan kesempurnaan yang dijangkaunya tidak realistik (Id tidak realistik dalam memperjuangkan kenikmatan).
Prinsip idealistic mempunyai dua subprinsip, yakni conscience dan ego-ideal. Superego pada hakekatnya merupakan elemen yang mewakili nilai-nilai orang tua atau interpretasi orang tua menangani standart sosial, yang diajarkan kepada anak melalui berbagai larangan dan perintah. Apapun tingkah laku yang dilarang, dianggap salah, dan dihukum oleh orang tua, akan diterima menjadi suara hati (conscience), yang berisi apa saja yang tidak boleh dilakukan. Apapun yang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang tua akan diterima menjadi standar kesempurnaan atau ego idea, yang berisi apa saja yang seharusnya dilakukan. Proses pengembangan konsensia dan ego ideal, yang berarti menerima standar salah dan benar itu disebut introyeksi (introjection). Sesudah menjadi introyeksi, kontrol pribadi akan mengganti kontrol orang tua.
Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam fikiran. Paling tidak ada 3 fungsi dari superego; (1) mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan-tujuan moralistic, (2) memerintah impuls Id, terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan dengan standart nilai masyarakat, dan (3) mengejar kesempurnaan.
Perkembangan Kepribadian
Freud adalah teoritis pertama yang memusatkan perhatiannya kepada kepribadian, dan menekankan pentingnya peran masa bayi dan awal-awal dalam pembetukan karakter seseorang. Freud yakin dasar kepribadian sudah terbentuk pada usia 5 tahun, dan perkembangan kepribadian sesudah usia 5 tahun sebagian besar hanya merupakan elaborasi dari struktur dasar tadi. Tehnik psikoanalisis mengeksplorasi jiwa pasien antara lain dengan mengembalikan mereka ke pengalaman masa kanak-kanak.
Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi tiga tahapan, yakni tahap infantile (0-5 tahun), tahap laten (5-12 tahun), dan tahap genital (>12 tahun). Tahap infantile yang paling menentukan dalam pembentukan kepribadian, terbagi dalam tiga fase, yakni fase oral, fase anal, fase falis. Perkembangan kepribadian ditentukan terutama oleh perkembangan seks, yang terkait dengan perkembangan biologis, sehingga tahap ini disebut juga tahap seksual infantile. Perkembangan insting seks berarti perubahan katektis seks, dan perkembangan biologis menyiapkan bagian tubuh untuk dipilih menjadi pusat kepuasan seksual. Pemberian nama fase-fase perkembangan infantile sesuai dengan bagian tubuh-daerah arogan-yang menjadi kateksis seksual pada fase itu. Tahap perkembangan psikoseksual itu adalah :
Fase Oral berlangsung dari usia 0 sampai 18 bulan. Titik kenikmatan terletak pada mulut, dimana aktifitas yang paling utama adalah menghisap dan menggigit.
Tahap Anal yang berlangsung dari usia 18 bulan sampai 3-4 tahun. Titik kenikmatan di tahap ini adalah anus. Memegang dan melepaskan sesuatu adalah aktifitas yang paling dinikmati.
Tahap Phallic berlangsung antara usia 3 sampai 5, 6 atau 7 tahun. Titik kenikmatan di tahap ini adalah alat kelamin, sementara aktivitas paling nikmatnya adalah masturbasi.
Tahap Laten berlangsung dari usia 5, 6, atau 7 sampai usia pubertas ( sekitar 12 tahun ). Dalam tahap ini, Freud yakin bahwa rangsangan-rangsangan seksual ditekan sedemikian rupa demi proses belajar
Tahap Genital dimulai pada saat usia pubertas, ketika dorongan seksual sangat jelas terlihat pada diri remaja, khususnya yang tertuju pada kenikmatan hubungan seksual. Mastrubasi, seks, oral, homo seksual dan kecenderungan-kecenderungan seksual yang kita anggap biasa saat ini, tidak dianggap Freud sebagai seksualitas yang normal.
Psikologi Individual (ALFRED ADLER 1870-1937)
Struktur Kepribadian
Manusia adalah mahluk sosial. Bahwa manusia merupakan suatu keseluruhan yang tidak dapat terbagi-bagi, tampaknya sudah jelas bagi kita. Hal ini merupakan arti pertama dari ucapan “manusia adalah mahluk individual “. Mahluk individual berarti mahluk yang tidak dapat dibagi-bagi (in-dividere).
Aristoteles seakan-akan berpendapat bahwa manusia itu merupakan penjumlahan dari beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja sendiri, seperti kemampuan vegetatif: makan, berkembang biak; kemampuan sensitif: bergerak mengamati-amati, bernafsu, dan berperasaan; berkemampuan intelektif: berkemampuan dan berkecerdasan.
Segi utama lainnya yang perlu diperhatikan adalah bahwa manusia secara hakiki merupakan mahluk sosial. Sejak ia dilahirkan, ia membutuhkan pergaulan dengan orang-orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologisnya, yaitu makan, minuman, dan lain-lain.
Manusia, selain mahluk individual yang sebenarnya tidak perlu lagi dibuktikan kebenarannya, sekaligus juga merupakan mahluk sosial. Hal ini pun sebenarnya tidak perlu dibuktikan. Disamping itu manusia merupakan mahluk yang bertuhanan. Hal terakhir juga tidak perlu dibuktikan lagi, sebab bagi manusia terutama Indonesia yang sudah dewasa dan sadar akan dirinya sudah jelas sulit menolak adanya kepercayaan terhadap Tuhan, sebagai segi hakiki dalam perikehidupan manusia dan segi khas bagi manusia pada umumnya.
Adler yakin bahwa individu memulai hidup dengan kelemahan fisik yang mengaktifkan perasaan interior, perasaan yang menggerakkan orang untuk bergerak atau berjuang menjadi superioritas atau menjadi sukses. Individu yang secara psikologis kurang sehat berjuang untuk menjadi pribadi superior, dan individu yang sehat termotivasi untuk mensukseskan umat manusia.
Pokok-Pokok Teori Adler
Individualitas sebagai pokok persoalan
Adler memberi tekanan kepada pentingnya sifat khas (unik) kepribadian, yaitu individualitas, kebetulan serta sifat-sifat pribadi manusia. Menurut Adler tiap orang adalah suatu kongfigurasi motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas; tiap tindak yang dilakukan oleh seseorang membawakan corak yang khas gaya kehidupannya yang bersifat individual.
Pandangan Teleologis: Finalisme Semu
Vaihinger mengemukakan, bahwa setiap manusia hidup dengan berbagai macam cita-cita atau pikiran yang semata-mata bersifat semu, yang tidak ada buktinya atau pasangannya yang realitas.
Dua Dorongan Pokok
Di dalam diri manusia terdapat dua dorongan pokok, yang mendorong serta melatarbelakangi segala tingkah lakunya, yaitu :
Dorongan kemasyarakatan yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada masyarakat; dan
Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada aku sendiri.
Rasa Rendah Diri dan Kompensasi
Adler berpendapat, bahwa rasa rendah diri itu bukanlah suatu pertanda ketidak normalan; melainkan justru merupakan pendorong bagi segala perbaikan dalam kehidupan manusia. Tentu saja dapat juga rasa rendah diri itu berlebihan sehingga manifestasinya juga tidak normal, misalnya timbulnya kompleks rendah diri atau kompleks untuk superior. Tetapi dalam keadaan normal rasa rendah diri itu merupakan pendorong kearah kemajuan atau kesempurnaan (superior).
Dorongan Kemasyarakatan
Dorongan kemasyarakatan itu adalah dasar yang dibawa sejak lahir; pada dasarnya manusia adalh mahluk sosial. Namun sebagaimana lain-lain kemungkinan bawaan, kemungkinan mengabdi kepada masyarakat itu tidak nampak secara spontan, melainkan harus dibimbing atau dilatih.
Gambaran tentang manusia sempurna hidup dalam masyarakat sempurna menggantikan gambaran manusia kuat, agresif dan menguasai serta memeras masyarakat.
“Dorongan untuk berkuasa, memainkan peranan terpenting dalam perkembangan kepribadian” ( Adler, 1946, p. 145.)
Gaya Hidup
Gaya hidup ini adalah prinsip yang dipakai landasan untuk memahami tingkah laku seseorang; inilah yang melatarbelakangi sifat khas seseorang.
Gaya hidup seseorang itu telah terbentuk antara umur tiga sampai lima tahun, dan selanjutnya segala pengalaman dihadapi serta diasimilasikan sesuai dengan gaya hidup yang khas itu.
Diri yang Kreatif
Diri yang kreatifitas adalah penggerak utama, pegangan filsafat, sebab pertama bagi semua tingkah laku. Sukarnya menjelaskan soal ini ialah karena orang tidak dapat menyaksikan secara langsung akan tetapi hanya dapat menyaksikan lewat manifestasinya.
Mengatasi Inferioritas dan Menjadi Superioritas:
Dorongan Maju.
Bagi Adler, kehidupan manusia dimotivasi oleh atau dorongan utama-dorongan untuk mengatasi perasaan inferior dan menjadi superior. Jadi tingkah laku ditentukan utamanya oleh pandangan mengenai masa depan, tujuan, dan harapan kita. Didorong oleh perasaan inferior, dan ditarik keinginan menjadi superior, maka orang mencoba untuk hidup sesempurna mungkin.
Inferiorta bagi Adler berarti perasaan lemah dan tidak terampil dalam menghadapi tugas yang harus diselesaikan. Bukan rendah diri terhadap orang lain dalam pengertian yang umum, walakupun ada unsur membandingkan kemampuan khusus diri dengan kemampuan orang lain yang lebih matang dan berpengalaman. Superiorita, pengertiannya mirip dengan trandensi sebagai awal realisasi diri dari Jung, atau aktualisasi dari Horney dan Maslow. Superiorita bukan lebih baik dibanding orang lain atau mengalahkan orang lain, tetapi berjuang menuju superiorita berarti terus menerus berusaha menjadi lebih baik-menjadi semakin dekat dengan tujuan final.
Perasaan inferioritas ada pada semua orang, karena manusia mulai hidup sebagai mahluk kecil dan lemah. Sepanjang hidup, perasaan iri terus muncul ketika orang menghadapi tugas baru dan belum dikenal yang harus diselesaikan.
Banyak orang yang berjuang menjadi superioritas dengan tidak memperhatikan orang lain. Tujuannya bersifat pribadi, dan perjuangannya dimotivasi oleh perasaan diri inferior yang berlebihan. Pembunuh, pencuri, pemain porno adalah contoh ekstrim yang berjuang hanya untuk mencapai keuntungan pribadi. Namun pada umumnya perbuatan atau perjuangan menjadi superior sukar dibedakan, mana yang motivasinya untuk keuntungan pribadi dan mana yang motivasinya minat sosial. Orang yang secara psikologi sehat, mampu meninggalkan perjuangan menguntungkan diri sendiri menjadi perjuangan yang termotivasi oleh minat sosial, perjuangan untuk menyukseskan nilai-nilai kemanusiaan. Orang ini membantu orang lain tanpa mengharap imbalan, melihat orang lain bukan sebagai saingannya akan tetapi sebagai rekan yang siap bekerjasama demi kepentingan sosial.
Kesatuan (Unity) Kepribadian
Adler memilih psikologi individu (individual psychology) dengan harapan dapat menekankan keyakinannya bahwa setiap manusia itu unik dan tidak dapat dipecah-pecahkan. Psikologi individual menekankan pentingnya unitas kepribadian. Pikiran, perasaan, dan kegiatan semuanya diarahkan kesatu tujuan tunggal dan mengejar satu tujuan.
Gaya Hidup
Adler juga dipengaruhi oleh Jan Smuts, filosofi dan negarawan Afrika Selatan. Menurut Smuts, kalaku ingin memahami orang lain, kita harus memahami dia dalam kesatuan yang utuh, bukan dalam bentuk yang terpisah-pisah, dan yang lebih penting lagi, kita harus memahaminya sesuai dengan konteks keadaan yang melatari orang tersebut, baik fisik maupun sosial.
Kepentingan Sosial
Adler menganggap kepekaan sosial ini bukan sekedar bawaan sejak lahir dan bukan pula diperoleh hanya dengan cara dipelajari, melainkan gabungan keduanya. Kepekaan sosial didasarkan pada sifat-sifat bawaan dan dikembangkan lebih lanjut agar tetap bertahan.
Di lain pihak, bagi Adler, tidak ada kesadaran sosial adalah sakit jiwa yang sesungguhnya. Segala bentuk sakit jiwa-neurotik, psikotik, tindak kriminal, narkoba, kenakalan remaja, bunuh diri, kemiskinan, prostitusi, dan lain-lain sebagainya- adalah penyakit-penyakit yang lahir akibat tidak adanya kesadaran sosial. Tujuan orang-orang yang mengidap penyakit ini adalah superioritas personal, keberhasilan dan kemenangan hanya berarti untuk mereka sendiri.
Psikologi Behaviorisme (Burrhus Frederic Skinner 1904-1990)
Struktur kepribadian
Menurut Skinner, penyelidikan mengenai kepribadian hanya sah jika memenuhi beberapa kriteria ilmiah. Umpamanya, ia tidak akan menerima gagasan bahwa kepribadian (personality) atau diri (self) yang membimbing atau mengarahkan perilaku.
Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah organisme dan berbagai konsekuensi yang diperkuatnya.
Selanjutnya, Skinner menguraikan sejumlah tehnik yang digunakan untuk mengontrol perilaku. Kemudian banyak diantaranya dipelajari oleh social-learning theoritists yang tertarik dalam modeling dan modifikasi perilaku. Tehnik tersebut adalah sebagai berikut (Wulansari & Sujatno, 1997).
Pengekangan Fisik ( physical restraints )
Bantuan Fisik ( physical aids)
Mengubah Kondisi Stimulus (changing the stimulus conditions)
Manipulasi Kondisi Emosional (manipulating emotional conditions)
Melakukan Respons-respons Lain (performing alternative responses)
Menguatkan Diri Secara Positif (positive self-reinforcement).
Menghukum Diri Sendiri ( self punishment).
Selanjutnya Skinner membedakan perilaku atas :
Perilaku yang alami (innate behavior), atau yang biasa disebut respondent behavior. Yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang jelas.
Perilaku Operan (operant behavior), yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang tidak jelas atau tidak diketahui, tetapi semata-mata ditimbulkan organisme itu sendiri.
Bagi Skinner, faktor motivational dalam tingkah laku bukan bagian elemen struktural. Dalam situasi yang sama tingkah laku seseorang bisa berbeda-beda kekuatan dan keseringan munculnya. Konsep motivasi yang menjelaskan variabilitas tingkah laku dalam situasi yang konstan bukan fungsi dari keadaan energi, tujuan, dan jenis penyebab sebagainya. Konsep itu secara sederhana dijelaskan melalui hubungan sekelompok respon dengan sekelompok kejadian. Penjelasan mengenai motivasi ini juga berlaku untuk emosi.
Dinamika Kepribadian
Kepribadian dan Belajar
Hakikat teori skinner adalah teori belajar, bagaimana individu menjadi memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Dia yakin bahwa kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan tingkah laku dalam hubungannya yang terus menerus dengan lingkungannya. Cara yang paling efektif untuk mengubah dawn mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan penguatan (reinforment), suatu strategi kegiatan yang membuat tingkah laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya (berpeluang tidak terjadi) pada masa yang akan datang. Konsep dasarnya sangat sederhana yakni semua tingkah laku dapat dikontrol.
Tingkah laku Kontrol Diri
Prinsip dasar pendekatan skinner adalah : Tingkah laku disebabkan dan dipengaruhi oleh variabel eksternal. Tidak ada dalam diri manusia, tidak ada bentuk kegiatan eksternal, yang mempengaruhi tingkah laku. Pengertian kontrol diri ini bukan mengontrol kekuatan di dalam “self”, tetapi bagaimana self mengontrol variabel-variabel luar yang menentukan tingkah laku.
Stimulan Aversif
Stimulasi aversif adalah lawan dari stimulant penguatan, sesuatu yang tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan.
“Perilaku yang diikuti oleh stimulant aversif akan memperkecil kemungkinan diulanginya perilaku tersebut pada masa-masa selanjutnya.”
Definisi ini sekaligus menggambarkan bentuk pengkondisian yang dikenal dengan hukuman.
Kondisioning Klasik (Classical Conditioning)
Kondisioning klasik, disebut juga kondisioning responden karena tingkah laku dipelajari dengan memanfaatkan hubungan stimulus-respon yang bersifat refleksbawaan.
Kondisioning Operan (Operant Conditioning)
Reinforser tidak diasosiasikan dengan stimulus yang dikondisikan, tetapi diasosiasikan dengan respon karena respon itu sendiri beroperasi memberi reinsforment. Skinner menyebut respon itu sebagai tingkah laku operan (operant behavior).
Tingkah laku responden adalah tingkah laku otomatis atau refleks, yang dalam kondisioning klasik respon diusahakan dapat dimunculkan dalam situasi yang lain dengan situasi aslinya. Tingkah laku operan mungkin belum pernah dimiliki individu, tetapi ketika orang melakukannya dia mendapat hadiah. Respon operan itu mendapat reinforcement, sehingga berpeluang untuk lebih sering terjadi. Kondisioning operan tidak tergantung pada tingkah laku otomatis atau refleks, sehingga jauh lebih fleksibel dibanding kondisioning klasik.
B. F. Skinner dengan pandangannya yang radikal, banyak salah dimengerti dan mendapat kritik yang tidak proporsional. Betapapun orang harus mengakui bahwa teori Behaviorisme paling berhasil dalam mendorong penelitian dibidang psikologi dengan pendekatan teoritik lainnya. Berikut lima kritik terpenting terhadap B. F. Skinner.
1. teori skinner tidak menghargai harkat manusia. Manusia bukan mesin otomat yang diatur lingkungan semata. Manusia bukan robot, tetapi organisme yang memiliki kesadaran untuk bertingkah laku dengan bebas dan spontan.
2. gabungan pendekatan nomoterik dan idiografik dalam penelitian dan pengembangan teori banyak menimbulkan masalah metodologis.
3. pendekatan skinner dalam terapi tingkah laku secara umum dikritik hanya mengobati symptom dan mengabaikan penyebab internal mental dawn fisiologik.
4. generalisasi dari tingkah laku merpati mematok makanan menjadi tingkah laku manusia yang sangat kompleks, terlalu luas/ jauh.
Walgito Bimo. Dr. Prof. Pengantar Psikologi Umum. Jogjakarta : ANDI, 2003
Sobur Alex, M. Si. Drs. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia, 2003
Gerungan W.A. Psych. Dipl. Dr. Psikologi Sosial. Bandung : PT Refika Aditama, 2004
Boeree George. C. Dr. Personality Theories. Jogjakarta : PRISMASOPHIE, 2004
Suryabrata Sumadi. Ph.D., Ed.S., M.A., B.A., Drs. Psikologi Kepribadian. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta : 1982
Ada beberapa kata atau istilah yang oleh masyarakat diperlakukan sebagai sinonim kata personality, namun ketika istilah-istilah itu dipakai di dalam teori kepribadian diberi makna berbeda-beda. Istilah yang berdekatan maknanya antara lain :
Personality (kepribadian); penggambaran perilaku secara deskriptif tanpa memberi nilai (devaluative)
Character (karakter); penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara ekspilit maupun implisit.
Disposition (watak); karakter yang telah dimiliki dan sampai sekarang belum berubah.
Temperament (temperament); kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologic atau fisiologik, disposisi hereditas.
Traits (sifat); respons yang senada (sama) terhadap kelompok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu yang (relatif) lama.
Type-Attribute (ciri): mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimulasi yang lebih terbatas.
Habit (kebiasaan): respon yang sama cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula.
Sampai sekarang, masih belum ada batasan formal personality yang mendapat pengakuan atau kesepakatan luas dilingkungan ahli kepribadian. Masing-masing pakar kepribadian membuat definisi sendiri-sendiri sesuai dengan paradigma yang mereka yakini dan fokus analisis dari teori yang mereka kembangkan. Berikut adalah beberapa contoh definisi kepribadian:
Kepribadian adalah nilai sebagai stimulus sosial, kemampuan menampilkan diri secara mengesankan (Hilgard & Marquis)
Kepribadian adalah kehidupan seseorang secara keseluruhan, individual, unik, usaha mencapai tujuan, kemampuannya bertahan dan membuka diri, kemampuan memperoleh pengalaman (Stern)
Kepribadian adalah organisasi dinamik dalam sistem psikofisiologik seorang yang menentukan model penyesuaiannya yang unik dengan lingkungannya (Allport)
Kepribadian adalah pola trait-trait yang unik dari seseorang (Guilford)
Kepribadian adalah seluruh karakteristik seseorang atau sifat umum banyak orang yang mengakibatkan pola yang menetap dalam merespon suatu situasi (Pervin)
Kepribadian adalah seperangkat karakteristik dan kecenderungan yang stabil, yang menentukan keumuman dan perbedaan tingkah laku psikologik (berpikir, merasa, dan gerakan) dari seseorang dalam waktu yang panjang dan tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai hasil dari tekanan sosial dan tekanan biologic saat itu (Mandy atau Burt)
Kepribadian adalah suatu lembaga yang mengatur organ tubuh, yang sejak lahir sampai mati tidak pernah berhenti terlibat dalam pengubahan kegiatan fungsional (Murray)
Kepribadian adalah pola khas dari fikiran, perasaan, dan tingkah laku yang membedakan orang satu dengan yang lain dan tidak berubah lintas waktu dan situasi (Phares)
Jelas, masing-masing definisi mencoba menonjolkan aspek yang berbeda-beda, dan disusun untuk menjawab tantangan permasalahan yang berbeda. Lebih menguntungkan memahami beberapa teori dan memilih teori yang tepat untuk diterapkan pada masalah yang tepat, disamping tetap memakai teori-teori yang lain sebagai pembanding sehingga keputusan profesional yang diambil seorang psikologi dapat lebih dipertanggung jawabkan. Namun sesungguhnya dari berbagai definisi itu, ada lima persamaan yang menjadi ciri bahwa definisi itu adalah definisi kepribadian, sebagai berikut :
Kepribadian bersifat umum; Kepribadian menunjuk kepada sifat umum seseorang-fikiran, kegiatan, dan perasaan- yang berpengaruh terhadap keseluruhan tingkah lakunya.
Kepribadian bersifat khas: Kepribadian dipakai untuk menjelaskan sifat individu yang membedakan dia dengan orang lain, semacam tanda tangan atau sidik jari psikologik, bagaimana individu berbeda dengan yang lain.
Kepribadian berjangka lama: Kepribadian dipakai untuk menggambarkan sifat individu yang awet, tidak mudah berubah sepanjang hayat. Kalaku terjadi perubahan biasanya bersifat bertahap atau akibat merespon suatu kejadian yang luar biasa.
Kepribadian bersifat kesatuan: Kepribadian dipakai untuk memandang diri sebagai unit tunggal, struktur atau organisasi internal hipotetik yang membentuk suatu kesatuan.
Kepribadian bisa berfungsi baik atau buruk: Kepribadian adalah cara bagaimana orang berada di dunia. Apakah dia tampil dalam tampilan yang baik, kepribadiannya sehat dan kuat? Atau tampil sebagai burung yang lumpuh? Yang berarti kepribadiannya menyimpang atau lemah? Ciri kepribadian sering dipakai untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa orang senang dan mengapa susah, berhasil atau gagal, berfungsi penuh atau berfungsi sekedarnya.
1. Beberapa teori dalam psikologi kepribadian
Psikoanalisis Klasik (SIGMUD FREUD 1856-1939)Struktur Kepribadian
Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (Conscious), pra sadar (Preconscious), dan tidak sadar (Unconscious). Alam sadar adalah apa yang anda sadari pada saat tertentu, penginderaan langsung, ingatan, persepsi, pemikiran, fantasy, perasaan yang anda miliki. Terkait erat dengan alam sadar ini adalah apa yang dinamakan Freud dengan alam pra sadar, yaitu apa yang kita sebut dengan saat ini dengan ‘kenangan yang sudah tersedia’ (available memory), yaitu segala sesuatu yang dengan mudah dapat di panggil ke alam sadar, kenangan-kenangan yang walakupun tidak anda ingat waktu berpikir, tapi dapat mudah dengan mudah dipanggil lagi. Adapun bagian terbesar adalah alam bawah sadar (Unconscious mind). Bagian ini mencakup segala sesuatu yang sangat sulit dibawa ke alam bawah sadar, seperti nafsu dan insting kita serta segala sesuatu yang masuk ke situ karena kita tidak mampu menjangkaunya, seperti kenangan atau emosi-emosi yang terkait dengan trauma.
Id (Is [Latin], atau es [Jerman]) Id adalah kepribadian yang dibawa sejak lahir. Dari Id ini akan muncul ego dan super-ego. Saat dilahirkan, Id berisi semua aspek psikologis yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drive. Id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious, mewakili subyektifitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan enerji psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya.
Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu : berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang relatif inaktif atau tingkat energi yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan energi yang mendambakan kepuasan. pleasure principle diproses dengan du acara, tindak refleks (refllex actions) dan proses primer (primary process). Tindak refleks adalah reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejabkan mata-dipakai untuk menangani kepuasan rangsang sederhana dan biasanya dapat segera dilakukan. Proses primer adalah reaksi membayangkan/ mengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan-dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau punting ibunya.
Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu membedakan yang benar dan yang salah, tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberikan kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral. Alasan ini lah yang kemudian membuat Id memunculkan ego.
The Ego (Das Ich [Jerman]), ego berkembang dari Id agar orang mampu menangani realitas; sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle); usaha memperoleh kepuasan yang dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda kenikmatan sampai ditemukan obyek yang nyata-nyata dapat memuaskan kebutuhan.
Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama; pertama, memilih stimulasi mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal. Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan Id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan perkembangan-mencapai-kesempurnaan dari superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan Id, karena itu ego yang tidak memiliki enerji sendiri untuk akan memperoleh enerji dari Id.
The Superego (Das Ueber Ich[Jerman]), adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistic (idealistic principle) sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik dari ego. Superego berkembang dari ego, dan seperti ego dia tidak mempunyai enerji sendiri. Sama dengan ego, superego beroperasi di tiga daerah kesadaran. Namun berbeda dengan ego, dia tidak mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan Id) sehingga kebutuhan kesempurnaan yang dijangkaunya tidak realistik (Id tidak realistik dalam memperjuangkan kenikmatan).
Prinsip idealistic mempunyai dua subprinsip, yakni conscience dan ego-ideal. Superego pada hakekatnya merupakan elemen yang mewakili nilai-nilai orang tua atau interpretasi orang tua menangani standart sosial, yang diajarkan kepada anak melalui berbagai larangan dan perintah. Apapun tingkah laku yang dilarang, dianggap salah, dan dihukum oleh orang tua, akan diterima menjadi suara hati (conscience), yang berisi apa saja yang tidak boleh dilakukan. Apapun yang disetujui, dihadiahi dan dipuji orang tua akan diterima menjadi standar kesempurnaan atau ego idea, yang berisi apa saja yang seharusnya dilakukan. Proses pengembangan konsensia dan ego ideal, yang berarti menerima standar salah dan benar itu disebut introyeksi (introjection). Sesudah menjadi introyeksi, kontrol pribadi akan mengganti kontrol orang tua.
Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam fikiran. Paling tidak ada 3 fungsi dari superego; (1) mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan-tujuan moralistic, (2) memerintah impuls Id, terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan dengan standart nilai masyarakat, dan (3) mengejar kesempurnaan.
Perkembangan Kepribadian
Freud adalah teoritis pertama yang memusatkan perhatiannya kepada kepribadian, dan menekankan pentingnya peran masa bayi dan awal-awal dalam pembetukan karakter seseorang. Freud yakin dasar kepribadian sudah terbentuk pada usia 5 tahun, dan perkembangan kepribadian sesudah usia 5 tahun sebagian besar hanya merupakan elaborasi dari struktur dasar tadi. Tehnik psikoanalisis mengeksplorasi jiwa pasien antara lain dengan mengembalikan mereka ke pengalaman masa kanak-kanak.
Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi tiga tahapan, yakni tahap infantile (0-5 tahun), tahap laten (5-12 tahun), dan tahap genital (>12 tahun). Tahap infantile yang paling menentukan dalam pembentukan kepribadian, terbagi dalam tiga fase, yakni fase oral, fase anal, fase falis. Perkembangan kepribadian ditentukan terutama oleh perkembangan seks, yang terkait dengan perkembangan biologis, sehingga tahap ini disebut juga tahap seksual infantile. Perkembangan insting seks berarti perubahan katektis seks, dan perkembangan biologis menyiapkan bagian tubuh untuk dipilih menjadi pusat kepuasan seksual. Pemberian nama fase-fase perkembangan infantile sesuai dengan bagian tubuh-daerah arogan-yang menjadi kateksis seksual pada fase itu. Tahap perkembangan psikoseksual itu adalah :
Fase Oral berlangsung dari usia 0 sampai 18 bulan. Titik kenikmatan terletak pada mulut, dimana aktifitas yang paling utama adalah menghisap dan menggigit.
Tahap Anal yang berlangsung dari usia 18 bulan sampai 3-4 tahun. Titik kenikmatan di tahap ini adalah anus. Memegang dan melepaskan sesuatu adalah aktifitas yang paling dinikmati.
Tahap Phallic berlangsung antara usia 3 sampai 5, 6 atau 7 tahun. Titik kenikmatan di tahap ini adalah alat kelamin, sementara aktivitas paling nikmatnya adalah masturbasi.
Tahap Laten berlangsung dari usia 5, 6, atau 7 sampai usia pubertas ( sekitar 12 tahun ). Dalam tahap ini, Freud yakin bahwa rangsangan-rangsangan seksual ditekan sedemikian rupa demi proses belajar
Tahap Genital dimulai pada saat usia pubertas, ketika dorongan seksual sangat jelas terlihat pada diri remaja, khususnya yang tertuju pada kenikmatan hubungan seksual. Mastrubasi, seks, oral, homo seksual dan kecenderungan-kecenderungan seksual yang kita anggap biasa saat ini, tidak dianggap Freud sebagai seksualitas yang normal.
Psikologi Individual (ALFRED ADLER 1870-1937)
Struktur Kepribadian
Manusia adalah mahluk sosial. Bahwa manusia merupakan suatu keseluruhan yang tidak dapat terbagi-bagi, tampaknya sudah jelas bagi kita. Hal ini merupakan arti pertama dari ucapan “manusia adalah mahluk individual “. Mahluk individual berarti mahluk yang tidak dapat dibagi-bagi (in-dividere).
Aristoteles seakan-akan berpendapat bahwa manusia itu merupakan penjumlahan dari beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja sendiri, seperti kemampuan vegetatif: makan, berkembang biak; kemampuan sensitif: bergerak mengamati-amati, bernafsu, dan berperasaan; berkemampuan intelektif: berkemampuan dan berkecerdasan.
Segi utama lainnya yang perlu diperhatikan adalah bahwa manusia secara hakiki merupakan mahluk sosial. Sejak ia dilahirkan, ia membutuhkan pergaulan dengan orang-orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologisnya, yaitu makan, minuman, dan lain-lain.
Manusia, selain mahluk individual yang sebenarnya tidak perlu lagi dibuktikan kebenarannya, sekaligus juga merupakan mahluk sosial. Hal ini pun sebenarnya tidak perlu dibuktikan. Disamping itu manusia merupakan mahluk yang bertuhanan. Hal terakhir juga tidak perlu dibuktikan lagi, sebab bagi manusia terutama Indonesia yang sudah dewasa dan sadar akan dirinya sudah jelas sulit menolak adanya kepercayaan terhadap Tuhan, sebagai segi hakiki dalam perikehidupan manusia dan segi khas bagi manusia pada umumnya.
Adler yakin bahwa individu memulai hidup dengan kelemahan fisik yang mengaktifkan perasaan interior, perasaan yang menggerakkan orang untuk bergerak atau berjuang menjadi superioritas atau menjadi sukses. Individu yang secara psikologis kurang sehat berjuang untuk menjadi pribadi superior, dan individu yang sehat termotivasi untuk mensukseskan umat manusia.
Pokok-Pokok Teori Adler
Individualitas sebagai pokok persoalan
Adler memberi tekanan kepada pentingnya sifat khas (unik) kepribadian, yaitu individualitas, kebetulan serta sifat-sifat pribadi manusia. Menurut Adler tiap orang adalah suatu kongfigurasi motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas; tiap tindak yang dilakukan oleh seseorang membawakan corak yang khas gaya kehidupannya yang bersifat individual.
Pandangan Teleologis: Finalisme Semu
Vaihinger mengemukakan, bahwa setiap manusia hidup dengan berbagai macam cita-cita atau pikiran yang semata-mata bersifat semu, yang tidak ada buktinya atau pasangannya yang realitas.
Dua Dorongan Pokok
Di dalam diri manusia terdapat dua dorongan pokok, yang mendorong serta melatarbelakangi segala tingkah lakunya, yaitu :
Dorongan kemasyarakatan yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada masyarakat; dan
Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada aku sendiri.
Rasa Rendah Diri dan Kompensasi
Adler berpendapat, bahwa rasa rendah diri itu bukanlah suatu pertanda ketidak normalan; melainkan justru merupakan pendorong bagi segala perbaikan dalam kehidupan manusia. Tentu saja dapat juga rasa rendah diri itu berlebihan sehingga manifestasinya juga tidak normal, misalnya timbulnya kompleks rendah diri atau kompleks untuk superior. Tetapi dalam keadaan normal rasa rendah diri itu merupakan pendorong kearah kemajuan atau kesempurnaan (superior).
Dorongan Kemasyarakatan
Dorongan kemasyarakatan itu adalah dasar yang dibawa sejak lahir; pada dasarnya manusia adalh mahluk sosial. Namun sebagaimana lain-lain kemungkinan bawaan, kemungkinan mengabdi kepada masyarakat itu tidak nampak secara spontan, melainkan harus dibimbing atau dilatih.
Gambaran tentang manusia sempurna hidup dalam masyarakat sempurna menggantikan gambaran manusia kuat, agresif dan menguasai serta memeras masyarakat.
“Dorongan untuk berkuasa, memainkan peranan terpenting dalam perkembangan kepribadian” ( Adler, 1946, p. 145.)
Gaya Hidup
Gaya hidup ini adalah prinsip yang dipakai landasan untuk memahami tingkah laku seseorang; inilah yang melatarbelakangi sifat khas seseorang.
Gaya hidup seseorang itu telah terbentuk antara umur tiga sampai lima tahun, dan selanjutnya segala pengalaman dihadapi serta diasimilasikan sesuai dengan gaya hidup yang khas itu.
Diri yang Kreatif
Diri yang kreatifitas adalah penggerak utama, pegangan filsafat, sebab pertama bagi semua tingkah laku. Sukarnya menjelaskan soal ini ialah karena orang tidak dapat menyaksikan secara langsung akan tetapi hanya dapat menyaksikan lewat manifestasinya.
Mengatasi Inferioritas dan Menjadi Superioritas:
Dorongan Maju.
Bagi Adler, kehidupan manusia dimotivasi oleh atau dorongan utama-dorongan untuk mengatasi perasaan inferior dan menjadi superior. Jadi tingkah laku ditentukan utamanya oleh pandangan mengenai masa depan, tujuan, dan harapan kita. Didorong oleh perasaan inferior, dan ditarik keinginan menjadi superior, maka orang mencoba untuk hidup sesempurna mungkin.
Inferiorta bagi Adler berarti perasaan lemah dan tidak terampil dalam menghadapi tugas yang harus diselesaikan. Bukan rendah diri terhadap orang lain dalam pengertian yang umum, walakupun ada unsur membandingkan kemampuan khusus diri dengan kemampuan orang lain yang lebih matang dan berpengalaman. Superiorita, pengertiannya mirip dengan trandensi sebagai awal realisasi diri dari Jung, atau aktualisasi dari Horney dan Maslow. Superiorita bukan lebih baik dibanding orang lain atau mengalahkan orang lain, tetapi berjuang menuju superiorita berarti terus menerus berusaha menjadi lebih baik-menjadi semakin dekat dengan tujuan final.
Perasaan inferioritas ada pada semua orang, karena manusia mulai hidup sebagai mahluk kecil dan lemah. Sepanjang hidup, perasaan iri terus muncul ketika orang menghadapi tugas baru dan belum dikenal yang harus diselesaikan.
Banyak orang yang berjuang menjadi superioritas dengan tidak memperhatikan orang lain. Tujuannya bersifat pribadi, dan perjuangannya dimotivasi oleh perasaan diri inferior yang berlebihan. Pembunuh, pencuri, pemain porno adalah contoh ekstrim yang berjuang hanya untuk mencapai keuntungan pribadi. Namun pada umumnya perbuatan atau perjuangan menjadi superior sukar dibedakan, mana yang motivasinya untuk keuntungan pribadi dan mana yang motivasinya minat sosial. Orang yang secara psikologi sehat, mampu meninggalkan perjuangan menguntungkan diri sendiri menjadi perjuangan yang termotivasi oleh minat sosial, perjuangan untuk menyukseskan nilai-nilai kemanusiaan. Orang ini membantu orang lain tanpa mengharap imbalan, melihat orang lain bukan sebagai saingannya akan tetapi sebagai rekan yang siap bekerjasama demi kepentingan sosial.
Kesatuan (Unity) Kepribadian
Adler memilih psikologi individu (individual psychology) dengan harapan dapat menekankan keyakinannya bahwa setiap manusia itu unik dan tidak dapat dipecah-pecahkan. Psikologi individual menekankan pentingnya unitas kepribadian. Pikiran, perasaan, dan kegiatan semuanya diarahkan kesatu tujuan tunggal dan mengejar satu tujuan.
Gaya Hidup
Adler juga dipengaruhi oleh Jan Smuts, filosofi dan negarawan Afrika Selatan. Menurut Smuts, kalaku ingin memahami orang lain, kita harus memahami dia dalam kesatuan yang utuh, bukan dalam bentuk yang terpisah-pisah, dan yang lebih penting lagi, kita harus memahaminya sesuai dengan konteks keadaan yang melatari orang tersebut, baik fisik maupun sosial.
Kepentingan Sosial
Adler menganggap kepekaan sosial ini bukan sekedar bawaan sejak lahir dan bukan pula diperoleh hanya dengan cara dipelajari, melainkan gabungan keduanya. Kepekaan sosial didasarkan pada sifat-sifat bawaan dan dikembangkan lebih lanjut agar tetap bertahan.
Di lain pihak, bagi Adler, tidak ada kesadaran sosial adalah sakit jiwa yang sesungguhnya. Segala bentuk sakit jiwa-neurotik, psikotik, tindak kriminal, narkoba, kenakalan remaja, bunuh diri, kemiskinan, prostitusi, dan lain-lain sebagainya- adalah penyakit-penyakit yang lahir akibat tidak adanya kesadaran sosial. Tujuan orang-orang yang mengidap penyakit ini adalah superioritas personal, keberhasilan dan kemenangan hanya berarti untuk mereka sendiri.
Psikologi Behaviorisme (Burrhus Frederic Skinner 1904-1990)
Struktur kepribadian
Menurut Skinner, penyelidikan mengenai kepribadian hanya sah jika memenuhi beberapa kriteria ilmiah. Umpamanya, ia tidak akan menerima gagasan bahwa kepribadian (personality) atau diri (self) yang membimbing atau mengarahkan perilaku.
Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah organisme dan berbagai konsekuensi yang diperkuatnya.
Selanjutnya, Skinner menguraikan sejumlah tehnik yang digunakan untuk mengontrol perilaku. Kemudian banyak diantaranya dipelajari oleh social-learning theoritists yang tertarik dalam modeling dan modifikasi perilaku. Tehnik tersebut adalah sebagai berikut (Wulansari & Sujatno, 1997).
Pengekangan Fisik ( physical restraints )
Bantuan Fisik ( physical aids)
Mengubah Kondisi Stimulus (changing the stimulus conditions)
Manipulasi Kondisi Emosional (manipulating emotional conditions)
Melakukan Respons-respons Lain (performing alternative responses)
Menguatkan Diri Secara Positif (positive self-reinforcement).
Menghukum Diri Sendiri ( self punishment).
Selanjutnya Skinner membedakan perilaku atas :
Perilaku yang alami (innate behavior), atau yang biasa disebut respondent behavior. Yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang jelas.
Perilaku Operan (operant behavior), yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang tidak jelas atau tidak diketahui, tetapi semata-mata ditimbulkan organisme itu sendiri.
Bagi Skinner, faktor motivational dalam tingkah laku bukan bagian elemen struktural. Dalam situasi yang sama tingkah laku seseorang bisa berbeda-beda kekuatan dan keseringan munculnya. Konsep motivasi yang menjelaskan variabilitas tingkah laku dalam situasi yang konstan bukan fungsi dari keadaan energi, tujuan, dan jenis penyebab sebagainya. Konsep itu secara sederhana dijelaskan melalui hubungan sekelompok respon dengan sekelompok kejadian. Penjelasan mengenai motivasi ini juga berlaku untuk emosi.
Dinamika Kepribadian
Kepribadian dan Belajar
Hakikat teori skinner adalah teori belajar, bagaimana individu menjadi memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Dia yakin bahwa kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan tingkah laku dalam hubungannya yang terus menerus dengan lingkungannya. Cara yang paling efektif untuk mengubah dawn mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan penguatan (reinforment), suatu strategi kegiatan yang membuat tingkah laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya (berpeluang tidak terjadi) pada masa yang akan datang. Konsep dasarnya sangat sederhana yakni semua tingkah laku dapat dikontrol.
Tingkah laku Kontrol Diri
Prinsip dasar pendekatan skinner adalah : Tingkah laku disebabkan dan dipengaruhi oleh variabel eksternal. Tidak ada dalam diri manusia, tidak ada bentuk kegiatan eksternal, yang mempengaruhi tingkah laku. Pengertian kontrol diri ini bukan mengontrol kekuatan di dalam “self”, tetapi bagaimana self mengontrol variabel-variabel luar yang menentukan tingkah laku.
Stimulan Aversif
Stimulasi aversif adalah lawan dari stimulant penguatan, sesuatu yang tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan.
“Perilaku yang diikuti oleh stimulant aversif akan memperkecil kemungkinan diulanginya perilaku tersebut pada masa-masa selanjutnya.”
Definisi ini sekaligus menggambarkan bentuk pengkondisian yang dikenal dengan hukuman.
Kondisioning Klasik (Classical Conditioning)
Kondisioning klasik, disebut juga kondisioning responden karena tingkah laku dipelajari dengan memanfaatkan hubungan stimulus-respon yang bersifat refleksbawaan.
Kondisioning Operan (Operant Conditioning)
Reinforser tidak diasosiasikan dengan stimulus yang dikondisikan, tetapi diasosiasikan dengan respon karena respon itu sendiri beroperasi memberi reinsforment. Skinner menyebut respon itu sebagai tingkah laku operan (operant behavior).
Tingkah laku responden adalah tingkah laku otomatis atau refleks, yang dalam kondisioning klasik respon diusahakan dapat dimunculkan dalam situasi yang lain dengan situasi aslinya. Tingkah laku operan mungkin belum pernah dimiliki individu, tetapi ketika orang melakukannya dia mendapat hadiah. Respon operan itu mendapat reinforcement, sehingga berpeluang untuk lebih sering terjadi. Kondisioning operan tidak tergantung pada tingkah laku otomatis atau refleks, sehingga jauh lebih fleksibel dibanding kondisioning klasik.
B. F. Skinner dengan pandangannya yang radikal, banyak salah dimengerti dan mendapat kritik yang tidak proporsional. Betapapun orang harus mengakui bahwa teori Behaviorisme paling berhasil dalam mendorong penelitian dibidang psikologi dengan pendekatan teoritik lainnya. Berikut lima kritik terpenting terhadap B. F. Skinner.
1. teori skinner tidak menghargai harkat manusia. Manusia bukan mesin otomat yang diatur lingkungan semata. Manusia bukan robot, tetapi organisme yang memiliki kesadaran untuk bertingkah laku dengan bebas dan spontan.
2. gabungan pendekatan nomoterik dan idiografik dalam penelitian dan pengembangan teori banyak menimbulkan masalah metodologis.
3. pendekatan skinner dalam terapi tingkah laku secara umum dikritik hanya mengobati symptom dan mengabaikan penyebab internal mental dawn fisiologik.
4. generalisasi dari tingkah laku merpati mematok makanan menjadi tingkah laku manusia yang sangat kompleks, terlalu luas/ jauh.
DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. Psikologi Kepribadian. Malang :UUM Press, 2007Walgito Bimo. Dr. Prof. Pengantar Psikologi Umum. Jogjakarta : ANDI, 2003
Sobur Alex, M. Si. Drs. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia, 2003
Gerungan W.A. Psych. Dipl. Dr. Psikologi Sosial. Bandung : PT Refika Aditama, 2004
Boeree George. C. Dr. Personality Theories. Jogjakarta : PRISMASOPHIE, 2004
Suryabrata Sumadi. Ph.D., Ed.S., M.A., B.A., Drs. Psikologi Kepribadian. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta : 1982
PENGARUH MEDIA KOMUNIKASI MASSA TERHADAP POPULAR CULTURE DALAM KAJIAN BUDAYA/CULTURAL STUDIES (Bing Bedjo Tanudjaja, bacaan)
Posted by
agungpsiko
, Saturday, January 23, 2010 at 10:46 AM, in
Labels:
budaya pop,
cultural studies,
multikultural
PENGARUH MEDIA KOMUNIKASI MASSA TERHADAP POPULAR CULTURE DALAM KAJIAN BUDAYA/CULTURAL STUDIES
Bing Bedjo Tanudjaja
ABSTRAK
Cultural Studies atau kajian budaya adalah model kajian budaya (termasuk sosial) yang berbeda dengan kajian budaya modern (konvensional). Cultural Studies tidak dapat diteliti dan pahami berdasarkan epistemologi modern, karena asumsi- asumsi dasar kedua kajian ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran posmodern. Ada prinsip ketidakterbandingan (incommensurability) antara kajian budaya modern dengan Cultural studies, karena perbedaan pandangan dunia dan language games-nya. Jika karakter kajian budaya modern bersifat obyektif, universal, monokultural, dun beridentitas tunggal, maka cultural Studies memandang budaya bersifat plural, multikultural, kompleks, identitas terkonstruksi, dinamis, berbeda, interaktif, dan saling berpengaruh secara intens. Budaya pop, yang mendapat perhatian berlebih dalam kajian budaya, merupakan medan di mana kesadaran diperebutkan. Situasi ini tentu tidak dapat dipisahkan dan berkembangnya era informasi dan era globalisasi yang cenderung membawa dunia menjadi desa global.
PENDAHULUAN
Popular Culture atau sering disebut budaya pop mulai mendapat tempat dalam kehidupan manusia Indonesia. Dominic Strinati mendefinisikan budaya pop sebagai “lokasi pertarungan, di mana banyak dari makna ini (pertarungan kekuasaan atas makna yang terbentuk dan beredar di masyarakat) ditentukan dan diperdebatkan. Tidak cukup untuk mengecilkan budaya pop sebagai hanya melayani sistem peleng- kap bagi kapitalisme dan patriarkhi, membiarkan kesadaran palsu membius masyarakat. (Budaya pop) juga bisa dilihat sebagai lokasi di mana makna- makna dipertandingkan dan ideologi yang dominan bisa saja diusik. Antara pasar dan berbagai ideologi, antara pemodal dan produser, antara sutradara dan aktor, antara penerbit dan penulis, antara kapitalis dan kaum pekerja, antara perempuan dan laki-laki, kelompok heteroseksual dan homoseksual, kelompok
kulit hitam dan putih, tua dan muda, antara apa makna segala sesuatunya, dan bagaimana artinya, merupakan pertarungan atas kontrol (terhadap makna) yang berlangsung terus-menerus” (Strinati, 2003).
Budaya pop adalah budaya pertarungan makna dimana segala macam makna bertarung mem- perebutkan hati masyarakat. Dan sekarang ini, model praktis dan pemikiran pragmatis mulai berkembang dalam pertempuran makna itu. Budaya pop sering diistilahkan dengan budaya McDonald atau budaya MTV. Kepraktisan, pragmatisme, dan keinstanan dalam pola kehidupan menjadi salah satu ciri khasnya. Disini, media, baik cetak atau elektronik, menjadi salah satu ujung tombak public relation untuk menerjemahkan budaya pop ala MTV langsung ke jantung peradaban masyarakat itu. Televisi, misalnya, adalah media yang efisien dalam mengkomoditaskan segala sesuatu dan menjualnya dalam bentuk praktis agar dapat dengan mudah dicerna dan ditelan oleh masyarakat (Fertobhades, 2006).
Selain sebagai pemberi informasi media massa juga mempunyai beberapa fungsi. Fungsi pertama selain sebagai pemberi identitas pribadi khalayak. Sebagai pemberi identitas pribadi, media massa juga berfungsi sebagai model perilaku. Model perilaku dapat diperoleh dari sajian media. Apakah itu model perilaku yang sama dengan yang dimiliki atau bahkan yang kontra dengan yang dimiliki.
Fungsi ke dua sebagai sarana untuk meng- identifikasikan diri dengan nilai-nilai lain (dalam media). Manusia memiliki nilai-nilai hidupnya sendiri yang pada gilirannya akan ia gunakan untuk melihat dunia. Namun manusia juga perlu untuk melihat nilai-nilai yang diciptakan oleh media. Seperti yang kita ketahui, media membawa nilai-nilai dari seluruh penjuru dunia. Implikasinya adalah konsumen media dapat mengetahui nilai-nilai lain di luar nilainya.
Fungsi ke tiga media massa sebagai pemberi identitas, dimana media merupakan sarana untuk meningkatkan pemahaman mengenai diri sendiri. Untuk melihat serta menilai siapa, apa dan bagaimana diri seseorang, pada umumnya dibutuhkan pihak lain. Seseorang harus meminjam kacamata orang lain. Media dapat dijadikan sebagai salah satu kacamata yang dipergunakan untuk melihat siapa, apa serta bagaimana diri ini sesungguhnya.
Media massa memungkinkan seseorang untuk dapat mengetahui posisi sanak keluarga, teman dan masyarakat. Baik posisi secara fisik, secara intelek- tual maupun secara moral mengenai suatu peristiwa. Fungsi media massa yang satu ini biasanya dapat dilihat pada surat untuk redaksi, kolom pembaca dan yang sejenis. Pada multimedia fungsi ini menjadi sangat menonjol karena kita dimungkinkan untuk berinteraksi langsung dengan orang lain dalam waktu relatif lebih cepat.
Fungsi ke empat media massa menurut McQuail adalah sebagai hiburan. Berkaitan dengan itu media massa menjalankan fungsinya sebagai pelepas khala- yak dari masalah yang sedang dihadapi. Rasa jenuh di dalam melakukan aktivitas rutin pada saat tertentu akan muncul. Di saat itulah media menjadi alternatif untuk membantu kita di dalam melepaskan diri dari problem yang sedang dihadapi atau lari dari perasaan jenuh.
Khalayak juga memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis dari mengkonsumsi media massa. Manusia tidak saja perlu untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, namun ia juga harus memenuhi kebutuhan rohaninya, jiwanya. Kebutuhan ini dapat terpuaskan dengan
adanya media massa. Media massa memenuhi ke- butuhan tersebut dengan sajian yang menurut media yang bersangkutan dapat dinikmati dan memiliki nilai estetika.
Media massa juga dapat berfungsi sebagai pengisi waktu, dimana ini juga termasuk fungsi media massa sebagai sarana hiburan bagi khalayak. Kadang orang melakukan sesuatu tanpa ada tujuan. Mengkonsumsi media massa tanpa memiliki tujuan adalah salah satunya.
Penyaluran emosi. Ini merupakan fungsi lain dari media massa sebagai sarana hiburan. Emosi pasti melekat dalam diri setiap manusia. Dan layaknya magma yang tersimpan di dalam perut bumi, emosi ada saatnya untuk dikeluarkan. Emosi butuh penya- luran, dan salah satu salurannya adalah dengan meng- konsumsi media massa atau bahkan memproduksi media yang senada dengan emosinya (Wuryanta & Handayani, 2006).
Televisi menjadikan manusia sebagai komoditas yang dapat “diperjualbelikan” dengan alasan: ada yang membutuhkannya. Dalam pengertian ini, seorang idola turut ikut dijual oleh media dalam konsep budaya pop ini. Idola harus menjual dirinya, televisi (dan media lain) menjadi semacam “toko serba ada” yang memajang idola itu agar dapat dibeli oleh masyarakat. Dan masyarakat bisa melihat, memegang, bahkan mencicipi apa yang dijual oleh idola dan medianya itu. Semua itu mempunyai model kepentingannya masing-masing, alias saling mem- butuhkan. Salah satu unsur memerlukan unsur yang lain.
Dari sudut pandang lain, idola, yang kemudian difasilitasi oleh media dalam bingkai budaya pop, adalah salah satu cara manusia mengekspresikan dirinya. Cara-cara yang ditempuh dalam peng- ekspresian diri itu dapat bermacam-macam. Tampil atau Menampilkan Diri, adalah salah satu cara untuk membuat diri seseorang menjadi seorang idola. Setiap manusia pada dasarnya mempunyai keinginan untuk menampilkan dirinya, dalam bentuk apapun dan dalam media apapun. Dengan menampilkan dirinya ke muka umum, orang lain dapat melihat sesuatu kemampuan tertentu yang dimiliki seseorang. Itupun kalau punya kemampuan, jika tidak maka tampil hanya sekedar tampil: “Yang penting saya dapat tampil dan dilihat banyak orang, masalah tidak punya kemampuan untuk tampil itu urusan belakangan.” (Fertobhades , 2006).
BUDAYA POP SEBAGAI SUGUHAN INSTAN
Cara lain adalah mencari perhatian (attention seeking). Semua orang juga mempunyai keinginan
Tanudjaja, Pengaruh Media Komunikasi Massa terhadap Popular Culture (NIRMANA, VOL.9, NO. 2, JULI 2007: 96-106)dalam dirinya untuk bukan hanya tampil, tetapi juga untuk diperhatikan. Ada satu kepuasan psikologis tertentu jika menjadi pusat perhatian. Mencari perha- tian dapat berujung pada mencari sensasi (sensation seeking). Mencari sensasi adalah sesuatu perbuatan yang benar-benar diniatkan untuk menampilkan suatu perilaku atau kegiatan yang berbeda dengan yang lain. Berbeda berarti tidak sama, dan ketidaksamaan itu diartikan karena adanya sesuatu yang “luar biasa” pada tingkah laku atau kegiatan si pembuat sensasi. (Fertobhades, 2006).
Contohnya, banyak orang-orang yang ingin mendaftarkan dirinya ke Museum Rekor Indonesia (MURI) agar dicatat sebagai pemegang suatu rekor tertentu. Walaupun rekor yang ingin dicatat tersebut sangat naif alias tidak layak dijadikan sebagai suatu rekor. Mungkin jika punya sesuatu yang berbeda dan bersifat “luar biasa” maka bisa mencatatkannya ke MURI atau sekalian saja dipatenkan menjadi Hak Cipta, walaupun itu tidak bersifat penemuan. Semua itu adalah pencarian perhatian yang berujung pada pencarian sensasi.
Media menjadi pemantik di balik semua itu. Tetapi pemantik utamanya bukanlah media semata. Sistem dan subsistem dalam budaya pop yang menjadikan semua seperti itu. Pemicu itu bersambut dalam pemilihan idola, seperti yang ditampilkan di televisi. Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indosiar, Gebyar Penari Indonesia, Akademi Pelawak TPI, dan acara-acara lain yang menampilkan talenta tertentu dalam kemasan idola. Semua itu adalah suguhan instan yang dilihat setiap hari, didengar setiap hari, dinimati setiap hari, dan ikut terlibat di dalamnya dengan menjadi partisipan langsung dengan cara mengirim SMS mendukung calon idola dukungan- nya. Secara tidak langsung, suguhan instan itu turut mencerdaskan atau malah mendegradasikan kehi- dupan, sadar atau tidak sadar.
Mungkin saja suguhan instan itu tidaklah men- cerdaskan. Mungkin sekedar menyegarkan mata dan nafsu untuk mengidolakan sesuatu, tetapi dalam jangka panjang justru menjadikan masyarakat sebagai komoditas berikutnya yang menjadi sasaran kon- sumerisme dan konsumtivisme budaya pop. Ini adalah sebuah kenyataan, terlibat atau tidak, sistem diluar sana berjalan seperti itu.
PERAN MEDIA SEBAGAI PERANGKAT GAYA HIDUP
Menurut tinjauan teori ekonomi politik media, institusi media harus dinilai sebagai bagian dari sistem ekonomi yang juga berkaitan erat dengan sistem politik. Kualitas pengetahuan tentang masya-
rakat yang diproduksi oleh media untuk masyarakat, sebagian besar dapat ditentukan oleh nilai tukar berbagai ragam isi dalam kondisi yang memaksakan perluasan pesan, dan juga ditentukan oleh kepen- tingan ekonomi para pemilik dan penentu kebijakan.
Konsekuensi keadaan seperti itu terlihat dalam wujud berkurangnya jumlah sumber media inde- penden, terciptanya konsentrasi pada pasar besar, munculnya sikap masa bodoh terhadap calon khalayak pada sektor kecil (McQuail, Denis & Sven Windahl , 1993:63).
Walaupun pendekatan ini memusatkan perhatian pada media sebagai proses ekonomi yang meng- hasilkan komoditi (content), namun pendekatan ini kemudian melahirkan ragam pendekatan baru yang menarik, yaitu ragam pendekatan yang menyebutkan bahwa media sebenarnya menciptakan khalayak dalam pengertian bahwa media mengarahkan per- hatian khalayak ke pemasang iklan dan membentuk perilaku publik media sampai pada batas-batas tertentu (McQuail, Denis & Sven Windahl, 1993:64).
Sementara itu, jika kita melihat media sebagai bagian dari aktivitas industri, ada yang menyebutnya sebagai media economics, yaitu studi mengenai bagaimana industri media menggunakan sumber- sumber yang terbatas jumlahnya untuk memproduksi isi yang nanti didistribusikan kepada konsumen da- lam masyarakat untuk memuakan beragam keinginan dan kebutuhan. Pendekatan media economics akan membantu kita di dalam memahami hubungan antara produsen media terhadap khalayaknya, pengiklan, dan masyarakat. Pada level makro, analisis media akan berkaitan dengan ekonomi politik, agregasi produksi dan konsumsi, pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan dan inflasi, sedangkan pada level mikro terkait dengan pasar yang spesifik, struktur, tingkah laku dan perilaku pasar, aktivitas dari produsen dan konsumen (Albarran, 1996:5).
Industri media adalah industri yang unik karena mereka melayani dua pasar yang berbeda sekaligus dengan satu produk (dual product market). Pada pasar yang pertama yaitu khalayaknya (pembaca, pemirsa, pendengar), industri menjual produk berupa ‘goods’. Radio dan TV menjual program acaranya yang dinilai dalam bentuk rating, sedangkan koran dan majalah berupa bentuk fisik dari majalah dan koran tersebut yang dinilai dalam jumlah tiras. Pasar yang kedua adalah pengiklan. Kepada para peng- iklan, media menjual “service” berupa ruang atau waktu siarnya untuk digunakan (Albarran, 1996:27).
Ada tiga sumber kehidupan bagi media, yaitu content, capital dan audiences. Content terkait dengan isi dari sajian media, misalnya program acara (TV, radio), berita/feature, dan lain sebagainya.
Tanudjaja, Pengaruh Media Komunikasi Massa terhadap Popular Culture
99
Capital menyangkut sumber dana untuk menghidupi media. Sedangkan audience terkait dengan masalah segmen yang dituju, misalnya.
Dengan demikian, dapat dipahami mengapa me- dia banyak digunakan untuk kepentingan komersial. Karena untuk dapat mempertahankan hidup dengan memenangkan persaingan media membutuhkan sum- ber hidupnya baik capital, content, maupun audience. Ketiga sumber hidup media tersebut saling berhu- bungan. Dengan content yang menarik audience akan tetap memilih stasiun TV tertentu sebagai saluran favoritnya. Semakin banyak audience yang menon- ton program tersebut maka semakin tinggi pula ratingnya. Implikasinya adalah, semakin berminat pula pemasang iklan untuk beriklan pada program acara tersebut. Atau bisa jadi, stasiun TV yang memi- liki capital yang cukup kuat dapat memproduksi acara (content) yang berkualitas sehingga dapat me- narik minat audiens, yang mengakibatkan tingginya rating dan pada gilirannya akan menarik pengiklan untuk masuk. Kinerja seperti ini tentu saja membuat media dijadikan alat bagi para pemilik modal guna mempertahankan dominasinya. Entah dalam hal eko- nomi, kekuasaan maupun politis.
KEKHAWATIRAN TERHADAP BUDAYA POPULER
Budaya populer yang sekarang ini berkembang dengan pesat, menumbuhkembangkan juga deter- minasi populer budaya massa yang masih dan sulit dikontrol. Semua orang berpikir seragam; mulai dari cita rasa makanan dengan cara instan, hingga cita-cita menjadi artis terkenal dengan sms sebagai Tuhannya. Di beberapa stasiun televisi, kita juga bisa mengamati semangat budaya ini dalam acara pencarian bakat seperti Indonesian Idol, AFI dan KDI. Kehadiran produk televisi tersebut tak lepas dari hegemoni massa. Secara sederhana, budaya populer dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan kepada khalayak konsumen massa.
Selama rakyat diorganisir sebagai massa, mereka kehilangan identitas dan kualitas sebagai manusia, karena massa dalam kerangka waktu historis adalah kerumunan di dalam ruang: orang-orang dalam jum- lah besar yang tidak mampu mengekspresikan dirinya sebagai umat manusia karena terkait satu sama lain bukan sebagai individu atau anggota masyarakat-- sebenarnya mereka tidak terkait satu sama lain, kecuali untuk hubungan berjarak, abstrak, dan tidak manusiawi: sebuah pertandingan sepak bola atau pasar tradisional dalam kasus sebuah kerumunan, sebuah sistem produksi industrial, sebuah partai, atau
Negara bagian dalam kasus massa. Manusia massa adalah sebuah atom soliter, seragam dan tidak bisa dibedakan dari ribuan maupun jutaan atom lain yang menyusun “kerumunan kesepian”.
KONSTRUKSI REALITAS DI MEDIA DAN BUDAYA POPULER
Pertumbuhan kredit konsumen, ekspansi agen- agen seperti iklan, pemasaran, desain, dan kehu- masan, mendorong orang untuk mengonsumsi, serta lahirnya budaya populer modern yang memuja konsumerisme, hedonisme, dan gaya hidup.
Dalam proses ini, media jelas menjadi semakin penting. Bangkitnya bentuk-bentuk komunikasi massa modern maupun pengembangbiakan budaya media populer yang diasosiasikan sehingga menjadi hal penting dalam kerangka penjelasan teori pos- modern. Yang dapat disimpulkan dari sini adalah bahwa media massa telah menjadi hal utama bagi arus komunikasi dan informasi di dalam maupun di antara masyarakat-masyarakat modern (dan akibat- nya budaya populer yang mereka siarkan dan pro- mosikan semakin banyak menerangkan dan mem- perantarai kehidupan sehari-hari di dalam masyara- kat) bahawa mereka, bersama-sama dengan konsu- merisme, telah memenculkan ciri-ciri khas posmo- derisme.
Kebudayaan massa memainkan peran penting dalam mengintegrasikan kelas buruh dalam masyara- kat kapitalis serta kebudayaan konsumen dan media baru sedang menyusun model hegemoni kapitalis baru. Para pelanjut gagasan Gramsci dalam Cultural Studies tidak hanya memperhatikan budaya populer sebagai arena perjuangan ideologis, akan tetapi melihat lebih jauh perjuangan ideologis dan konflik di dalam masyarakat sipil sebagai arena sentral dalam politikbudaya.
Budaya pop, yang mendapat perhatian berlebih dalam kajian budaya, merupakan medan di mana kesadaran diperebutkan. Untuk memahami per- mainan bersama kekuasaan dan kesadaran, ada dua konsep yang dulu sering digunakan dalam teks-teks awal kajian budaya, meski kini tidak terlalu sering dipakai, yaitu ideologi dan hegemoni. Ideologi adalah peta-peta makna yang, meski berpretensi mengan- dung kebenaran universal, sebenarnya merupakan pengertian-pengertian yang spesifik secara historis yang menopengi dan melanggengkan kekuasaan. Misalnya, berita televisi terus menghasilkan penger- tian tentang dunia yang menjelaskan dunia dalam kerangka bangsa-bangsa, yang dianggap sebagai objek yang ada secara ‘alami’, mengaburkan baik pembagian-pembagian kelas dalam formasi sosial
100 NIRMANA, VOL.9, NO. 2, JULI 2007: 96-106
dan ketidakalamian kebangsaan yang merupakan suatu konstruksi (Barker, 2000:10). Representasi gender dalam iklan, yang menggambarkan perem- puan sebagai tubuh-tubuh seksi atau ibu rumah tangga semata, mereduksi perempuan ke dalam kategori-kategori itu, merampok mereka dari tempat- nya sebagai manusia dan warga negara. Proses pembuatan, mempertahankan dan reproduksi makna dan praktik-praktik kekuasaan disebut sebagai hegemoni. Hegemoni berkait dengan suatu situasi dimana ‘blok historis’ suatu kelompok yang berkuasa mendapatkan kewenangan dan kepemimpinan atas kelompok-kelompok subordinat dengan cara merebut memenangkan kesadaran.
Kebudayaan populer (popular culture) yang kemudian menciptakan dialektika antara homo- genisasi (penyeragaman) dan heterogenisasi (kera- gaman). Pertama, kebudayaan populer menawarkan keanekaragaman dan perbedaan ketika ia diinter- pretasi ulang oleh masyarakat yang berbeda di lain tempat. Kedua, kebudaya populer dipandang sebagai sekumpulan genre, teks, citra yang bermacam-macam dan bervariasi yang dapat dijumpai dalam berbagai media, sehingga sukar kiranya dapat dipahami dalam kriteria homogenitas dan standardisasi baku.
Kebudayaan popular akhirnya menjadi pembica- raan yang kompleks. Budaya populer adalah budaya yang lahir atas kehendak media. Artinya, jika media mampu memproduksi sebuah bentuk budaya, maka publik akan menyerapnya dan menjadikannya seba- gai sebuah bentuk kebudayaan. Populer yang kita bicarakan disini tidak terlepas dari perilaku konsumsi dan determinasi media massa terhadap publik yang bertindak sebagai konsumen. (Strinati, 2003)
Budaya populer muncul dan bertahan atas kehendak media (dengan ideologi kapitalis) dan perilaku konsumsi masyarakat. Dalam hal mempo- pulerkan suatu produk budaya, media berperan sebagai penyebar informasi sesuai fungsinya serta pembentuk opini publik yang kemudian berkembang menjadi penyeragaman opini dan selera. Akibatnya, apapun yang diproduksi oleh suatu media akan diterima oleh publik sebagai suatu nilai, dalam hal ini nilai kebudayaan. Masalahnya adalah, selama ini budaya populer hadir dengan stigma bahwa ia adalah sebuah budaya yang cendrung sekedar memuncukan pencitraan tanpa makna, bersifat dangkal dan tidak valuable. Kekuatan media dalam hal ini tidak lain adalah dalam mengkonstruksi realitas media yaitu sebuah realitas yang dikonstruksi berdasarkan sistem yang direkayasa oleh media tersebut dengan tujuan salah satunya adalah meraih keuntungan finansial dari publik yang mengkonsumsi semua jenis komoditi yang ditawarkan.
Dalam proses ini, media jelas menjadi semakin penting. Bangkitnya bentuk-bentuk komunikasi massa modern maupun pengembangbiakan budaya media populer yang diasosiasikan sehingga menjadi hal penting dalam kerangka penjelasan teori posmodern. Yang dapat disimpulkan dari sini adalah bahwa media massa telah menjadi hal utama bagi arus komunikasi dan informasi di dalam maupun di antara masyarakat-masyarakat modern (dan akibat- nya budaya populer yang mereka siarkan dan promosikan semakin banyak menerangkan dan memperantarai kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat) bahawa mereka, bersama-sama dengan konsumerisme, telah memenculkan ciri-ciri khas posmoderisme.
Perhatian Cultural Studies mengenai budaya populer berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut. Pertama, narasi Cultural Studies berupaya untuk mengeksplorasi bagaimana dan mengapa bentuk- bentuk budaya tertentu berkembang dan diterima dalam hubungan sosial kontemporer Kedua, narasi Cultural Studies berusaha mengeksplorasi bagaimana hegemoni kelompok dominan, posisi dan fungsinya dalam dunia produksi berkembang dan bergerak (Gramsci, 1971:12). Ketiga, asumsi tentang betapa perlunya untuk menyingkap bagaimana hubungan hegemoni yang baru bisa dipraktekkan di masa yang akan datang, bagaimana kelompok dan kelas subordinat bisa menjadi bagian dominan dan integral dari hegemoni yang baru. Keempat, sebagai kon- sekuensi tiga poin di atas adalah adanya kecen- derungan Cultural Studies untuk memberikan per- hatian pada persoalan politik praktis yang seringkali mengambil tindakan simpatik terhadap praktisi bu- daya yang dapat diidentifikasikan sebagai bentuk resistensi terhadap hubungan dominasi dan kepemim- pinan yang ada.
CULTURAL STUDIES SEBAGAI KAJIAN LINTAS DISIPLIN
Istilah kebudayaan dalam bahasa Inggris “cul- ture” secara umum memiliki dua pengertian berbeda. Pertama adalah pengertian kebudayaan sebagai belles letters, yang membedakan antara kebu-dayaan tinggi dengan kebudayaan rendah (populer, massa). Kedua, kebudayaan yang diartikan sebagai kebiasaan- kebiasaan khusus, adat istiadat dan pandangan dunia satu komunitas manusia. Konsep kebudayaan yang kedua lebih cocok dengan tema pembahasan ini, dimana “kebudayaan” selalu diklasifikasikan sepan- jang garis-garis geo-politik, kontinen, dan bangsa tertentu. Dari istilah “culture” diturunkan istilah “culturalism” (kulturalisme), multikulturalisme, dan
lain-lain. Istilah kulturalisme muncul dalam karya Richard Hoggart, Raymond Williams, E. P. Thompson, serta Stuart Hall pada akhir tahun 1950- an/1960-an, dan konsep ini digunakan para ahli sebagai konsep untuk Cultural Studies (Lubis & Akhyar, 2006:137).
Kajian budaya (cultural studies) sering disebut sebagai wilayah kajian lintas-disiplin, multi-disiplin, pasca-disiplin, atau anti-disiplin. Seringkali yang dimaksud dengan ‘lintas’, ‘multi’, ‘pasca’, atau ‘anti’ itu adalah sebuah fenomena pascamodern dalam dunia akademis tentang mengaburnya batas-batas antar-disiplin. Semua ini tentulah baik adanya, karena dari sudut pandang nominalis ‘disiplin’ sebenarnya hanyalah merupakan istilah untuk melegitimasi dan melembagakan metode dan medan minat sebuah kajian. Tetapi yang sering luput dan tidak hadir dalam perbincangan tentang lintas-disiplin dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora adalah bahwa gagasan lintas- disiplin dalam kajian budaya juga melibatkan ga- gasan tentang perlintasan antara teori dengan tinda- kan. Inilah pokok soal sesungguhnya yang membeda- kan kajian budaya dengan displin lainnya, yaitu hubungan kajian budaya dengan soal-soal kekuasaan dan politik, dengan keinginan akan perubahan dan representasi dari dan ‘untuk’ kelompok-kelompok sosial yang terpinggirkan, terutama kelompok kelas, gender dan ras (tapi juga kelompok usia, kecacatan, kebangsaan, dan sebagainya)
Kajian Cultural Studies dan multikulturalisme berkaitan dengan perkembangan budaya (sosial- politik) kontemporer seperti yang dikembangkan oleh Robert Nozik, Charles Taylor, Richard Rorty, Dworkin, Michael Sandel, John Rawls dan lain-lain. Jika dalam tradisi filsafat politik sebelumnya (tradisional) fokus perhatian para ahli umumnya tertuju path garis tunggal yang dirumuskan dalam aliran/gerakan “kiri” dan “kanan”: ‘kiri’ adalah gerakan yang percaya dan mengutamakan persamaan (equality,), karenanya mendukung sosialisme, semen- tara ‘kanan’ lebih menekankan path kebebasan (freedom), karena itu mendukung bentuk kapitalisme dan pasar bebas (free-market capitalism). Diantara kedua ekstrem ini lalu muncul sintesis dari tokoh liberal yang percaya path keduanya dengan mendu- kung kapitalisme Negara Kesejahteraan (welfare capitalism) (Lubis & Akhyar, 2006:139).
Kajian budaya merupakan bangunan teori yang dihasilkan oleh pemikir yang menganggap produksi pengetahuan teoritis sebagai suatu praktik politis. Di sini pengetahuan tidak pernah dipandang sebagai fenomena netral atau objektif, melainkan sebagai persoalan posisionalitas, persoalan dari mana, kepada siapa dan dengan tujuan apa seseorang bicara. Benar
bahwa sifat lintas-metode dan lintas-medan minat bisa dilihat sebagai sebuah ciri kajian budaya yang menonjol, tetapi pertanyaan tentang peran intelektual sesungguhnya merupakan persoalan yang lebih pokok dalam kajian budaya.
Dalam pengertian luas, konsep yang dikembang- kan oleh para ahli/ilmuwan inilah yang kemudian menjadi dasar bagi kajian budaya populer (popular culture) yang mulai berbeda dengan tradisi kajian “budaya dan peradaban” sebelumnya yang penulis sebut sebagai kajian budaya konvensional (modern). Stuart Hall dan Whannel dalam bukunya The Popular Arts melakukan kajian pada budaya populer, hal yang sama kemudian dilakukan pula oleh Pusat Studi Budaya Kontemporer di Universitas Birmingham. Perkembangan tahap kedua Cultural Studies Inggris ditandai dengan berdirinya Center for Contemporary Cultural Studies di Universitas Birmingham pada tahun 1970-an oleh Hoggart dan Stuart Hall. Kellner mengemukakan bahwa pen- dukung pusat studi itu memiliki banyak persamaan dengan gerakan dan pemikiran Mazhab Frankfurt. Pusat Cultural Studies ini mengembangkan beragam pendekatan kritis untuk analisis interpretasi dan kritik terhadap artefak kebudayaan (Kellner, dalam Lubis; Akhyar , 2006:141).
Konstruksi teori melibatkan pengkajian konsep dan argumen-argumen, seringkali juga pendefinisian- ulang dan mengkritik hasil kerja sebelumnya, untuk mencari alat-alat baru yang digunakan untuk berpikir/memahami dunia. Hal ini mendapat tempat yang tinggi dalam kajian budaya. Pengkajian teoretis bisa dianggap sebagai peta-peta kultural yang menjadi panduan kita. Kajian budaya menolak klaim para empirisis bahwa pengetahuan hanyalah masalah mengumpulkan fakta yang digunakan untuk men- deduksi atau menguji teori. Teori dipandang sudah selalu implisit dalam penelitian empiris melalui pemilihan topik, fokus riset dan konsep-konsep yang dipakai untuk mendiskusikan dan menafsirkannya. Dengan kata lain, ‘fakta’ tidaklah netral dan tidak ada tumpukan ‘fakta’ yang bisa menghasilkan kisah tentang hidup kita tanpa teori. Bahkan, teori adalah kisah tentang kemanusiaan yang punya implikasi untuk tindakan dan penilaian-penilaian tentang konsekuensi.
Kajian budaya ingin memainkan peran demistifi- kasi, untuk menunjukkan karakter terkonstruksi teks- teks kebudayaan dan berbagai mitos dan ideologi yang tertanam di dalamnya, dengan harapan bisa melahirkan posisi-posisi subjek, dan subjek-subjek sungguhan, yang mampu melawan subordinasi. Sebagai sebuah teori yang politis, kajian budaya berharap dapat mengorganisir kelompok-kelompok oposisi yang berserak menjadi suatu aliansi politik
Tanudjaja, Pengaruh Media Komunikasi Massa terhadap Popular Culture
101
102 NIRMANA, VOL.9, NO. 2, JULI 2007: 96-106
kebudayaan. Meski demikian, Bennet (1992) me- ngatakan bahwa kebanyakan politik tekstual yang dihasilkan kajian budaya (a) tidak berkaitan dengan banyak orang dan (b) mengabaikan dimensi insti- tusional kekuasaan kultural. Karena itu ia mendorong kajian budaya untuk mengadopsi pendekatan yang lebih pragmatis dan bekerja dengan para produser kebudayaan dalam konstruksi dan penerepan kebija- kan kultural (Bennet, 1992).
Meski sulit didefinisikan, namun ada beberapa karakteristik yang dapat dikemukakan untuk meng- identifikasi apa. yang disebut Cultural Studies itu. Yaitu antara lain:
Cultural Studies bertujuan meneliti/mengkaji berbagai kebudayaan dan praktik budaya serta kaitannya dengan kekuasaan. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan dimensi kekuasaan dan bagai- mana kekuasaan itu mempengaruhi berbagai bentuk kebudayaan (sosial-politik, ekonomi, ilmu pengeta- huan, hukum dan lain-lain. Bandingkan dengan konsep kuasa dan pengetahuan, kuasa dan kebenaran pada Foucault, kuasa dan kepentingan pada Habermas).
Cultural Studies tidak membahasakan kebuda- yaan yang terlepas dari konteks sosial-politik, akan tetapi mengkaji masalah budaya dalam konteks sosial-politik dimana masalah kebudayaan itu tumbuh dan berkembang.
Dalam Cultural Studies budaya dikaji baik dari aspek obyek maupun lokasi tindakan selalu dalam tradisi kritis, maksudnya kajian itu tidak hanya bertujuan merumuskan teori-teori (intelektual), akan tetapi juga sebagai suatu tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris (Bandingkan dengan teori kritis Mazhab Frankfurt).
Cultural Studies berupaya mendemonstrasi (membongkar, mendobrak) aturan-aturan, dan peng- kotak-kotakan ilmiah konvensional, lalu berupaya mendamaikan pengetahuan yang objektif,-subjektif (intuitif), universal lokal. Cultural Studies bukan hanya memberikan penghargaan pada identitas bersama (yang plural), kepentingan bersama, akan tetapi mengakui saling keterkaitan dimensi subjek (tivitas) dan objek(tivitas) dalam penelitian.
Cultural Studies tidak merasa harus steril dari nilai-nilai (tidak bebas nilai) akan tetapi melibatkan diri dengan nilai dari pertimbangan moral masyarakat modern serta tindakan politik dan konstruksi sosial. Dengan demiklan Cultural Studies bukan hanya bertujuan memahami realitas masyarakat atau buda- ya, akan tetapi merubah struktur dominasi, struktur sosial-budaya yang menindas, khususnya dalam masyarakat kapitalis-industrial (Sardar & Van Loon, 2001:9).
MENCARI KEBENARAN DALAM MEDAN CULTURAL STUDIES
Penelitian teori Cultural Studies dan multikul- turalisme bersifat multiperspektif, dan seorang pene- liti dapat saja mengambil sudut pandang tertentu dalam melakukan penelitian atau menggabungkan komponen-komponen identitas: ras, kelas, rasiona- litas. Pluralitas perspektif dalam penelitian Cultural Studies dan multikulturalisme adalah penelitian yang dilakukan dan sudut pandang atau perspektif (stand- point) tertentu (Longino, 1993). Penelitian seperti inilah. yang oleh kaum posmodernis disebut sebagai penelitian yang bersifat lokal dengan hasilnya berupa narasi-narasi kecil. Kebenaran dianggap sebagai produksi dalam permainan bahasa dimana kebenaran itu didasarkan aspek lokalitas (Lubis & Akhyar, 2006:184).
Mempertanyakan Identitas Kultural
Dalam kajian budaya identitas dipandang bersifat kultural dan tidak punya keberadaan di luar repre- sentasinya dalam wacana kultural. Identitas bukan sesuatu yang tetap yang bisa kita simpan, melainkan suatu proses menjadi. Etnisitas, ras dan nasionalitas adalah konstruksi-konstruksi diskursif-performatif yang tidak mengacu pada ‘benda-benda’ yang sudah ada. Artinya, etnisitas, ras dan nasionalitas merupa- kan kategori-kategori kultural yang kontingen dan bukan ‘fakta’ biologis yang universal. Sebagai kon- sep, etnisitas mengacu pada pembentukan dan pelanggengan batas-batas kultural dan punya keung- gulan dalam penekanannya pada sejarah, budaya dan bahasa.
Ras adalah sebuah gagasan yang problematis karena asosiasinya dengan wacana biologis tentang superioritas dan subordinasi yang intrinsik dan tak terhindarkan. Meski demikian, konsep rasialisasi atau pembentukan ras punya kegunaan karena menekan- kan pada kekuasaan, kontrol dan dominasi. Ide tentang identitas, ras, etnisitas dan bangsa mesti dilihat dalam kerangka saling bersandarnya yang satu pada lainnya, seperti dalam hal kemurnian etnis suatu bangsa yang dihipotesiskan oleh wacana nasionalis, atau peran yang dimainkan metafora gender dalam konstruksi tentang bangsa, ibu pertiwi, dan sebagai- nya (Hall, 1992).
Seks, Gender, dan Representasi
Dalam kajian budaya, seks dan gender dilihat sebagai konstruksi-konstruksi sosial yang secara intrinsik terimplikasi dalam persoalan-persoalan representasi. seks dan gender lebih merupakan persoalan kultural ketimbang alam. Meski ada juga
pemikiran feminis yang menekankan pada perbedaan esensial antara laki-laki dan perempuan, kajian budaya cenderung mengeksplorasi gagasan tentang karakter identitas seksual yang spesifik secara historis, tidak stabil, plastis dan bisa berubah. Tapi bukan berarti kita bisa dengan gampang membuang identitas seksual kita dan menggantinya dengan yang lain, karena meskipun seks adalah suatu konstruksi sosial, ia adalah konstruksi sosial yang mengkonsti- tusi kita melalui tekanan-tekanan kekuasaan dan identifikasi-identifikasi dalam psikis kita. Dengan kata lain, konstruksi sosial adalah sesuatu yang diregulasi dan memiliki konsekuensi.
Karena identitas seksual dipandang bukan merupakan masalah esensi biologis yang universal melainkan persoalan bagaimana feminitas dan maskulinitas dibicarakan, maka feminisme dan kajian budaya seharusnya memberi perhatian pada masalah- masalah seks dan representasi. Umpamanya, kajian budaya telah mempelajari representasi perempuan dalam budaya populer dan dalam sastra, dan men- dapatkan bahwa perempuan di seluruh dunia ter- konstitusi sebagai kelamin yang kedua, tersubordinasi di bawah lelaki. Dengan kata lain, posisi-posisi subjek yang dikonstruksi untuk perempuan yang menempatkan mereka dalam tatanan kerja patriarkis domestifikasi dan beautification atau tatanan kerja yang menjadikan mereka sebagai ibu dan berkarir serta mampu mengeksplorasi individualitasnya dan tampil menarik. Perempuan di masyarakat-masyara- kat pascakolonial mengusung beban ganda karena tersubordinasi oleh kolonialisme sekaligus kaum laki- laki pribuminya. Meski demikian, ada kemungkinan untuk menggoyang stabilitas representasi-representasi tubuh yang terkelaminkan ini (dalam kasus Madonna umpamanya), karena meski teks memang meng- konstruksi posisi subjek, bukan berarti semua lelaki atau perempuan mengambil posisi-posisi yang ditawarkan. Kajian-kajian resepsi menekankan pada negosiasi yang terjadi antara subjek dengan teks, termasuk kemungkinan melakukan resistensi terha- dap makna tekstual. Kajian-kajian inilah yang sering merayakan nilai-nilai dan budaya menonton perem- puan (Giddens, 1992).
Televisi, Penonton, dan Konstruksi Ideologis
Sudah lama televisi mendapat perhatian dalam kajian budaya karena kedudukan sentralnya dalam praktik komunikasi masyarakat modern. Perhatian ini menjadi makin kuat seiring pergeseran televisi global dari jasa penyiaran publik menjadi televisi komersial yang didominasi perusahaan-perusahaan multimedia dalam pencarian mereka akan sinergi dan konver- gensi. Mengglobalnya institusi-institusi televisi di-
barengi oleh peredaran global narasi dan genre-genre utama televisi, seperti berita, opera sabun, televisi musik, olahraga dan permainan-permainan, yang disetel dalam kerangka budaya ‘promosional’ dan postmodern, ditandai oleh adanya brikolase, inter- tekstualitas dan kaburnya genre.
Kajian budaya juga menaruh perhatian pada konstruksi ideologis program-program televisi, se- perti versi-versi hegemonik berita dunia yang menyingkirkan perspektif-perspektif alternatif. Meski demikian, program televisi juga dipandang bersifat polisemik; memuat berbagai makna yang biasanya kontradiktif. Ini memungkinkan audiens meng- eksplorasi beragam makna potensial. Bukti-bukti juga telah menunjukkan bahwa audiens adalah pencipta makna yang aktif dan tidak begitu saja mengambil makna-makna tekstual yang ditemukan oleh para kritikus.
Pentingnya televisi tidak bisa dibatasi pada makna-makna tekstual karena televisi ditempatkan dan dialami dalam aktivitas hidup sehari-hari. Meski ekonomi politik dan arus program televisi memang bersifat global, aktivitas menonton televisi ter- situasikan dalam praktik-praktik domestik sehari-hari (Lull, J., 1991).
Subkultur: Remaja dan Perlawanan
Meskipun lebih jarang dibahas bila dibandingkan dengan kelas, gender dan ras, usia adalah patokan klasifikasi dan stratifikasi sosial yang penting. Gambaran-gambaran tentang masa anak-anak, re- maja, dewasa, lanjut usia, pensiunan, dan seterusnya, merupakan kategori-kategori identitas yang mengan- dung berbagai konotasi mengenai kemampuan dan tanggung jawab. Remaja adalah klasifikasi kultural dari suatu rentang usia yang elastis yang dikodekan secara ambigu oleh orang dewasa sebagai indikasi ‘masalah’ dan ‘kesenangan’. Orang muda mengu- sung harapan-harapan orang dewasa untuk masa depan sekaligus menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran.
Karya-karya awal kajian budaya Inggris melihat subkultur muda yang spektakuler sebagai manifestasi perlawanan simbolik terhadap tatanan kelas yang berkuasa. Subkultur dianggap menawarkan solusi- solusi magis bagi persoalan-persoalan struktural kelas. Ada tiga alat analitik penting: (a) konsep homologi, di mana benda-benda simbolik subkultural dianggap sebagai ekspresi dari keprihatinan dan posisi-posisi struktural tersembunyi kelompok- kelompok muda; (b) brikolase, di mana simbol- simbol yang sebelumnya tidak terkait kemudian dipadukan untuk menciptakan makna-makna baru; dan (c) gaya, suatu brikolase simbol.
Pengaruh Media Komunikasi Massa terhadap Popular Culture untuk suatu ekspresi yang koheren dan bermakna (Hebdige, 1979).
Cultural Policy
Politik kebudayaan merupakan kekuasaan untuk menamai dan merepresentasi dunia, di mana bahasa bersifat konstitutif bagi dunia dan menjadi panduan untuk bertindak. Politik kebudayaan bisa dipahami sebagai serangkaian pergulatan kolektif yang dior- ganisir di seputar kelas, gender, ras, seksualitas, usia, dan lain-lain, yang hendak mendeskripsikan ulang dunia sosial berdasar nilai-nilai tertentu dan untuk mencapai konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan (Cunningham, 1992).
KESIMPULAN
Cultural Studies dan multikulturalisme adalah kajian yang berbeda dengan kajian budaya modern, karena Cultural Studies dan multikulturalisme didasarkan pada epistemologi pascapo (Teori Kritis, posstrukturalisme dan posmodernisme). Cultural Studies adalah kajian yang melintasi batas-batas disiplin, sebagaimana dilakukan Habermas dan Pierre Bourdieu. Para pendukungnya (ahlinya) banyak tertarik meneliti budaya populer, media massa serta sistem ekonomi dan sosial-budaya yang dominan. Kemudian berupaya untuk mengkritik dan mende- konstruksi dominasi, hegemoni, serta bias rasisme, negara, kelas, serta gender yang terdapat dalam masyarakat/budaya tersebut. Bennet menyatakan bahwa Cultural Studies adalah kajian yang menekan- kan keterkaitan budaya dengan masalah sosial dan kehidupan sehari-hari (budaya populer).
Masyarakat plural tidak sama dengan masyarakat yang multikultural meskipun sama-sama berhu- bungan dengan budaya yang beranekaragam. Namun pada masyarakat multikultural terjadi saling pengaruh dan interaksi yang intens antar budaya. Multikul- turalisme adalah masyarakat yang menerima perbe- daan, persamaan, keadilan, kesederajatan, dialog, dan solidaritas. Dalam masyarakat multikultural perbeda- an dilihat seperti mozaik yang semakin memperindah kehidupan satu masyarakat. Ben Agger menyatakan bahwa multikulturalisme adalah versi paling politis dari posmodernisme. Kiranya cukup jelas bahwa multikulturalisme sangat dijiwai oleh posmodernisme serta ideologi neoliberal sebagai dasar bagi perspektif multikultural (polivokal).
Dalam masyarakat plural dan multikultural selalu diharapkan adanya kemungkinan masyarakat untuk membangun kepentingan bersama. Karena itu pengakuan atas hak dan kedudukan sebagai warga negara dan keragaman kepentingan (plurality of interest) harus menjadi pertimbangan utama dalam merumuskan satu kebijakan public/politik, sehingga kebijakan itu diharapkan baik untuk semua pihak. Karena itu dialog, sikap kritis, solidaritas, toleransi, keadilan, kebersamaan, harus dikembangkan di tengah-tengah masyarakat multikultural (Lubis & Akhyar, 2006:184-188).
Kearifan cultural studies akan menggiring kepada pemahaman bahwa setiap era (age), lokalitas, dan konteks masyarakat memiliki libido sosial yang tidak seragam. Pencapaian pemahaman tinggi (verstehen) dapat terjadi jika kita dengan lunak mencerdasi setiap fenomena sosial melalui sebuah format ingin tahu, meneliti, dan berbicara sebagai subyek pelaku, bukan malah berprasangka, menuduh, membangun stigma dan stereotipe.
Cultural studies mungkin menjadi salah satu jalan menuju pengalaman estetik dari "seni pene- muan" (art of discovery) pengetahuan yang kita lakukan. Pekerjaan seni penemuan harus berinterseksi dengan kelompok-kelompok sosial yang ada seperti pihak kampus, aktivis lapangan, LSM, penerbitan, lembaga-lembaga penelitian, dan media massa. Kesa- daran berkomunikasi akan mampu menjauhkan seseorang dari kekeringan wacana ketika berbicara tentang manusia dan sejarahnya (Fasya, 2002).
DAFTAR PUSTAKA
Albarran, Alan D. (1996). Media Economics: Understanding Markets, Industries, and Concepts. Ames: Iowa State University Press,
Barker, Chris. (2000). Cultural Studies: Theory and Practice. London: Sage.
Bennet, Tonny. (1992). “Putting policy into Cultural Studies”, dalam L. Grossberg, C. Nelson & P. Treichler (eds.). Cultural Studies. London- New York: Routledge.
Clifford, J. & Marcus, G. (eds.). (1986). Writing Culture.Berkeley:Univ.of CaliforniaPress.
Cunningham, S. (1992). “The Cultural Policy Debate Revisited”, Meanjin, 51 (3).
Fasya, Teuku Kemal. (2002). Cultural Studies" dan Masa Depan Ilmu Humaniora Baru, Kompas, opini, Kamis, 22 Agustus 2002.
Featherstone, Mike. (2005). Posmodernisme dan Budaya Konsumen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Braudillard, Jean. (2004). Masyarakat Konsumsi,
Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Tanudjaja, Pengaruh Media Komunikasi Massa terhadap Popular Culture
105
Fertobhades, Gebyar Idola: Makanan Instan Budaya Pop, Rabu 6 September 2006 http://fertobhades.wordpress.com/2006/09/06/ gebyar-idola-makanan-instan-budaya-pop/
Geertz, C.(1973). The Interpretation of Culture. New York: Basic Books.
Giddens, Anthony. (1992). The Transformatins of Intimacy. Cambridge: Polity Press.
Gramsci, Antonio. (1971). Selections From Prison Notebooks. London: Laurence and Wishart.
Hall, Stuart. (1981). “Encoding/Decoding”, dalam Stuart Hall, A. Lowe, dan Paul Willis (eds.), Culture, Media, Language. London: Hutchinson.
Hall, Stuart. (1992). “The Questions of Cultural Identity”, dalam S. Hall, D. Held & T.McGrew (eds.). Modernity and Its Futures. London: Edward Arnold.
Hebdige, Dick. (1979). Subculture: The Meaning of Style. London: Routledge.
Lubis, Akhyar Yusuf. (2006). Dekonstruksi Epistemologi Modern, Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme Hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.
Lull, J. (1991). China Turned On: Television, Reform and Resistance. London: Routledge.
Majalah Filsafat Driyarkara.(1997).Tahun XXIII, No. 1. Jakarta: Seksi Publikasi Senat Mahasiswa STF Driyarkara.
Marcuse, Herbert. (2000). Manusia Satu Dimensi. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
McQuail, Denis & Sven Windahl. (1993). Commu- nication Models for the Study of Mass Communication, 2nd Edition. London: Longman,
McQuail, Denis. (1994). Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.
Rorty, Richard. (1989). Contingency, Irony and Solidarity. Cambridge: Cambridge Univ. Press.
Sardar, Ziauddin & Van Loon, Bonn. (2001).Cultural Studies For Beginners (Terj. Alfatri Aldin). Bandung: Penerbit Mizan,
Sudarminta, J. (2002). Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius.
Todorov, T. (1977). The Poetics of Prose. Ithaca: Cornell Univ. Press.
Wuryanta, AG. Eka Wenats & Handayani, Mediana (2006). Konsumtivisme dan
Hedonisme Media Massa. Friday, March 31, 2006. http://ekawenats.blogspot.com/2006_03_26_ar chive.html
Bing Bedjo Tanudjaja
ABSTRAK
Cultural Studies atau kajian budaya adalah model kajian budaya (termasuk sosial) yang berbeda dengan kajian budaya modern (konvensional). Cultural Studies tidak dapat diteliti dan pahami berdasarkan epistemologi modern, karena asumsi- asumsi dasar kedua kajian ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran posmodern. Ada prinsip ketidakterbandingan (incommensurability) antara kajian budaya modern dengan Cultural studies, karena perbedaan pandangan dunia dan language games-nya. Jika karakter kajian budaya modern bersifat obyektif, universal, monokultural, dun beridentitas tunggal, maka cultural Studies memandang budaya bersifat plural, multikultural, kompleks, identitas terkonstruksi, dinamis, berbeda, interaktif, dan saling berpengaruh secara intens. Budaya pop, yang mendapat perhatian berlebih dalam kajian budaya, merupakan medan di mana kesadaran diperebutkan. Situasi ini tentu tidak dapat dipisahkan dan berkembangnya era informasi dan era globalisasi yang cenderung membawa dunia menjadi desa global.
PENDAHULUAN
Popular Culture atau sering disebut budaya pop mulai mendapat tempat dalam kehidupan manusia Indonesia. Dominic Strinati mendefinisikan budaya pop sebagai “lokasi pertarungan, di mana banyak dari makna ini (pertarungan kekuasaan atas makna yang terbentuk dan beredar di masyarakat) ditentukan dan diperdebatkan. Tidak cukup untuk mengecilkan budaya pop sebagai hanya melayani sistem peleng- kap bagi kapitalisme dan patriarkhi, membiarkan kesadaran palsu membius masyarakat. (Budaya pop) juga bisa dilihat sebagai lokasi di mana makna- makna dipertandingkan dan ideologi yang dominan bisa saja diusik. Antara pasar dan berbagai ideologi, antara pemodal dan produser, antara sutradara dan aktor, antara penerbit dan penulis, antara kapitalis dan kaum pekerja, antara perempuan dan laki-laki, kelompok heteroseksual dan homoseksual, kelompok
kulit hitam dan putih, tua dan muda, antara apa makna segala sesuatunya, dan bagaimana artinya, merupakan pertarungan atas kontrol (terhadap makna) yang berlangsung terus-menerus” (Strinati, 2003).
Budaya pop adalah budaya pertarungan makna dimana segala macam makna bertarung mem- perebutkan hati masyarakat. Dan sekarang ini, model praktis dan pemikiran pragmatis mulai berkembang dalam pertempuran makna itu. Budaya pop sering diistilahkan dengan budaya McDonald atau budaya MTV. Kepraktisan, pragmatisme, dan keinstanan dalam pola kehidupan menjadi salah satu ciri khasnya. Disini, media, baik cetak atau elektronik, menjadi salah satu ujung tombak public relation untuk menerjemahkan budaya pop ala MTV langsung ke jantung peradaban masyarakat itu. Televisi, misalnya, adalah media yang efisien dalam mengkomoditaskan segala sesuatu dan menjualnya dalam bentuk praktis agar dapat dengan mudah dicerna dan ditelan oleh masyarakat (Fertobhades, 2006).
Selain sebagai pemberi informasi media massa juga mempunyai beberapa fungsi. Fungsi pertama selain sebagai pemberi identitas pribadi khalayak. Sebagai pemberi identitas pribadi, media massa juga berfungsi sebagai model perilaku. Model perilaku dapat diperoleh dari sajian media. Apakah itu model perilaku yang sama dengan yang dimiliki atau bahkan yang kontra dengan yang dimiliki.
Fungsi ke dua sebagai sarana untuk meng- identifikasikan diri dengan nilai-nilai lain (dalam media). Manusia memiliki nilai-nilai hidupnya sendiri yang pada gilirannya akan ia gunakan untuk melihat dunia. Namun manusia juga perlu untuk melihat nilai-nilai yang diciptakan oleh media. Seperti yang kita ketahui, media membawa nilai-nilai dari seluruh penjuru dunia. Implikasinya adalah konsumen media dapat mengetahui nilai-nilai lain di luar nilainya.
Fungsi ke tiga media massa sebagai pemberi identitas, dimana media merupakan sarana untuk meningkatkan pemahaman mengenai diri sendiri. Untuk melihat serta menilai siapa, apa dan bagaimana diri seseorang, pada umumnya dibutuhkan pihak lain. Seseorang harus meminjam kacamata orang lain. Media dapat dijadikan sebagai salah satu kacamata yang dipergunakan untuk melihat siapa, apa serta bagaimana diri ini sesungguhnya.
Media massa memungkinkan seseorang untuk dapat mengetahui posisi sanak keluarga, teman dan masyarakat. Baik posisi secara fisik, secara intelek- tual maupun secara moral mengenai suatu peristiwa. Fungsi media massa yang satu ini biasanya dapat dilihat pada surat untuk redaksi, kolom pembaca dan yang sejenis. Pada multimedia fungsi ini menjadi sangat menonjol karena kita dimungkinkan untuk berinteraksi langsung dengan orang lain dalam waktu relatif lebih cepat.
Fungsi ke empat media massa menurut McQuail adalah sebagai hiburan. Berkaitan dengan itu media massa menjalankan fungsinya sebagai pelepas khala- yak dari masalah yang sedang dihadapi. Rasa jenuh di dalam melakukan aktivitas rutin pada saat tertentu akan muncul. Di saat itulah media menjadi alternatif untuk membantu kita di dalam melepaskan diri dari problem yang sedang dihadapi atau lari dari perasaan jenuh.
Khalayak juga memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis dari mengkonsumsi media massa. Manusia tidak saja perlu untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, namun ia juga harus memenuhi kebutuhan rohaninya, jiwanya. Kebutuhan ini dapat terpuaskan dengan
adanya media massa. Media massa memenuhi ke- butuhan tersebut dengan sajian yang menurut media yang bersangkutan dapat dinikmati dan memiliki nilai estetika.
Media massa juga dapat berfungsi sebagai pengisi waktu, dimana ini juga termasuk fungsi media massa sebagai sarana hiburan bagi khalayak. Kadang orang melakukan sesuatu tanpa ada tujuan. Mengkonsumsi media massa tanpa memiliki tujuan adalah salah satunya.
Penyaluran emosi. Ini merupakan fungsi lain dari media massa sebagai sarana hiburan. Emosi pasti melekat dalam diri setiap manusia. Dan layaknya magma yang tersimpan di dalam perut bumi, emosi ada saatnya untuk dikeluarkan. Emosi butuh penya- luran, dan salah satu salurannya adalah dengan meng- konsumsi media massa atau bahkan memproduksi media yang senada dengan emosinya (Wuryanta & Handayani, 2006).
Televisi menjadikan manusia sebagai komoditas yang dapat “diperjualbelikan” dengan alasan: ada yang membutuhkannya. Dalam pengertian ini, seorang idola turut ikut dijual oleh media dalam konsep budaya pop ini. Idola harus menjual dirinya, televisi (dan media lain) menjadi semacam “toko serba ada” yang memajang idola itu agar dapat dibeli oleh masyarakat. Dan masyarakat bisa melihat, memegang, bahkan mencicipi apa yang dijual oleh idola dan medianya itu. Semua itu mempunyai model kepentingannya masing-masing, alias saling mem- butuhkan. Salah satu unsur memerlukan unsur yang lain.
Dari sudut pandang lain, idola, yang kemudian difasilitasi oleh media dalam bingkai budaya pop, adalah salah satu cara manusia mengekspresikan dirinya. Cara-cara yang ditempuh dalam peng- ekspresian diri itu dapat bermacam-macam. Tampil atau Menampilkan Diri, adalah salah satu cara untuk membuat diri seseorang menjadi seorang idola. Setiap manusia pada dasarnya mempunyai keinginan untuk menampilkan dirinya, dalam bentuk apapun dan dalam media apapun. Dengan menampilkan dirinya ke muka umum, orang lain dapat melihat sesuatu kemampuan tertentu yang dimiliki seseorang. Itupun kalau punya kemampuan, jika tidak maka tampil hanya sekedar tampil: “Yang penting saya dapat tampil dan dilihat banyak orang, masalah tidak punya kemampuan untuk tampil itu urusan belakangan.” (Fertobhades , 2006).
BUDAYA POP SEBAGAI SUGUHAN INSTAN
Cara lain adalah mencari perhatian (attention seeking). Semua orang juga mempunyai keinginan
Tanudjaja, Pengaruh Media Komunikasi Massa terhadap Popular Culture (NIRMANA, VOL.9, NO. 2, JULI 2007: 96-106)dalam dirinya untuk bukan hanya tampil, tetapi juga untuk diperhatikan. Ada satu kepuasan psikologis tertentu jika menjadi pusat perhatian. Mencari perha- tian dapat berujung pada mencari sensasi (sensation seeking). Mencari sensasi adalah sesuatu perbuatan yang benar-benar diniatkan untuk menampilkan suatu perilaku atau kegiatan yang berbeda dengan yang lain. Berbeda berarti tidak sama, dan ketidaksamaan itu diartikan karena adanya sesuatu yang “luar biasa” pada tingkah laku atau kegiatan si pembuat sensasi. (Fertobhades, 2006).
Contohnya, banyak orang-orang yang ingin mendaftarkan dirinya ke Museum Rekor Indonesia (MURI) agar dicatat sebagai pemegang suatu rekor tertentu. Walaupun rekor yang ingin dicatat tersebut sangat naif alias tidak layak dijadikan sebagai suatu rekor. Mungkin jika punya sesuatu yang berbeda dan bersifat “luar biasa” maka bisa mencatatkannya ke MURI atau sekalian saja dipatenkan menjadi Hak Cipta, walaupun itu tidak bersifat penemuan. Semua itu adalah pencarian perhatian yang berujung pada pencarian sensasi.
Media menjadi pemantik di balik semua itu. Tetapi pemantik utamanya bukanlah media semata. Sistem dan subsistem dalam budaya pop yang menjadikan semua seperti itu. Pemicu itu bersambut dalam pemilihan idola, seperti yang ditampilkan di televisi. Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indosiar, Gebyar Penari Indonesia, Akademi Pelawak TPI, dan acara-acara lain yang menampilkan talenta tertentu dalam kemasan idola. Semua itu adalah suguhan instan yang dilihat setiap hari, didengar setiap hari, dinimati setiap hari, dan ikut terlibat di dalamnya dengan menjadi partisipan langsung dengan cara mengirim SMS mendukung calon idola dukungan- nya. Secara tidak langsung, suguhan instan itu turut mencerdaskan atau malah mendegradasikan kehi- dupan, sadar atau tidak sadar.
Mungkin saja suguhan instan itu tidaklah men- cerdaskan. Mungkin sekedar menyegarkan mata dan nafsu untuk mengidolakan sesuatu, tetapi dalam jangka panjang justru menjadikan masyarakat sebagai komoditas berikutnya yang menjadi sasaran kon- sumerisme dan konsumtivisme budaya pop. Ini adalah sebuah kenyataan, terlibat atau tidak, sistem diluar sana berjalan seperti itu.
PERAN MEDIA SEBAGAI PERANGKAT GAYA HIDUP
Menurut tinjauan teori ekonomi politik media, institusi media harus dinilai sebagai bagian dari sistem ekonomi yang juga berkaitan erat dengan sistem politik. Kualitas pengetahuan tentang masya-
rakat yang diproduksi oleh media untuk masyarakat, sebagian besar dapat ditentukan oleh nilai tukar berbagai ragam isi dalam kondisi yang memaksakan perluasan pesan, dan juga ditentukan oleh kepen- tingan ekonomi para pemilik dan penentu kebijakan.
Konsekuensi keadaan seperti itu terlihat dalam wujud berkurangnya jumlah sumber media inde- penden, terciptanya konsentrasi pada pasar besar, munculnya sikap masa bodoh terhadap calon khalayak pada sektor kecil (McQuail, Denis & Sven Windahl , 1993:63).
Walaupun pendekatan ini memusatkan perhatian pada media sebagai proses ekonomi yang meng- hasilkan komoditi (content), namun pendekatan ini kemudian melahirkan ragam pendekatan baru yang menarik, yaitu ragam pendekatan yang menyebutkan bahwa media sebenarnya menciptakan khalayak dalam pengertian bahwa media mengarahkan per- hatian khalayak ke pemasang iklan dan membentuk perilaku publik media sampai pada batas-batas tertentu (McQuail, Denis & Sven Windahl, 1993:64).
Sementara itu, jika kita melihat media sebagai bagian dari aktivitas industri, ada yang menyebutnya sebagai media economics, yaitu studi mengenai bagaimana industri media menggunakan sumber- sumber yang terbatas jumlahnya untuk memproduksi isi yang nanti didistribusikan kepada konsumen da- lam masyarakat untuk memuakan beragam keinginan dan kebutuhan. Pendekatan media economics akan membantu kita di dalam memahami hubungan antara produsen media terhadap khalayaknya, pengiklan, dan masyarakat. Pada level makro, analisis media akan berkaitan dengan ekonomi politik, agregasi produksi dan konsumsi, pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan dan inflasi, sedangkan pada level mikro terkait dengan pasar yang spesifik, struktur, tingkah laku dan perilaku pasar, aktivitas dari produsen dan konsumen (Albarran, 1996:5).
Industri media adalah industri yang unik karena mereka melayani dua pasar yang berbeda sekaligus dengan satu produk (dual product market). Pada pasar yang pertama yaitu khalayaknya (pembaca, pemirsa, pendengar), industri menjual produk berupa ‘goods’. Radio dan TV menjual program acaranya yang dinilai dalam bentuk rating, sedangkan koran dan majalah berupa bentuk fisik dari majalah dan koran tersebut yang dinilai dalam jumlah tiras. Pasar yang kedua adalah pengiklan. Kepada para peng- iklan, media menjual “service” berupa ruang atau waktu siarnya untuk digunakan (Albarran, 1996:27).
Ada tiga sumber kehidupan bagi media, yaitu content, capital dan audiences. Content terkait dengan isi dari sajian media, misalnya program acara (TV, radio), berita/feature, dan lain sebagainya.
Tanudjaja, Pengaruh Media Komunikasi Massa terhadap Popular Culture
99
Capital menyangkut sumber dana untuk menghidupi media. Sedangkan audience terkait dengan masalah segmen yang dituju, misalnya.
Dengan demikian, dapat dipahami mengapa me- dia banyak digunakan untuk kepentingan komersial. Karena untuk dapat mempertahankan hidup dengan memenangkan persaingan media membutuhkan sum- ber hidupnya baik capital, content, maupun audience. Ketiga sumber hidup media tersebut saling berhu- bungan. Dengan content yang menarik audience akan tetap memilih stasiun TV tertentu sebagai saluran favoritnya. Semakin banyak audience yang menon- ton program tersebut maka semakin tinggi pula ratingnya. Implikasinya adalah, semakin berminat pula pemasang iklan untuk beriklan pada program acara tersebut. Atau bisa jadi, stasiun TV yang memi- liki capital yang cukup kuat dapat memproduksi acara (content) yang berkualitas sehingga dapat me- narik minat audiens, yang mengakibatkan tingginya rating dan pada gilirannya akan menarik pengiklan untuk masuk. Kinerja seperti ini tentu saja membuat media dijadikan alat bagi para pemilik modal guna mempertahankan dominasinya. Entah dalam hal eko- nomi, kekuasaan maupun politis.
KEKHAWATIRAN TERHADAP BUDAYA POPULER
Budaya populer yang sekarang ini berkembang dengan pesat, menumbuhkembangkan juga deter- minasi populer budaya massa yang masih dan sulit dikontrol. Semua orang berpikir seragam; mulai dari cita rasa makanan dengan cara instan, hingga cita-cita menjadi artis terkenal dengan sms sebagai Tuhannya. Di beberapa stasiun televisi, kita juga bisa mengamati semangat budaya ini dalam acara pencarian bakat seperti Indonesian Idol, AFI dan KDI. Kehadiran produk televisi tersebut tak lepas dari hegemoni massa. Secara sederhana, budaya populer dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan kepada khalayak konsumen massa.
Selama rakyat diorganisir sebagai massa, mereka kehilangan identitas dan kualitas sebagai manusia, karena massa dalam kerangka waktu historis adalah kerumunan di dalam ruang: orang-orang dalam jum- lah besar yang tidak mampu mengekspresikan dirinya sebagai umat manusia karena terkait satu sama lain bukan sebagai individu atau anggota masyarakat-- sebenarnya mereka tidak terkait satu sama lain, kecuali untuk hubungan berjarak, abstrak, dan tidak manusiawi: sebuah pertandingan sepak bola atau pasar tradisional dalam kasus sebuah kerumunan, sebuah sistem produksi industrial, sebuah partai, atau
Negara bagian dalam kasus massa. Manusia massa adalah sebuah atom soliter, seragam dan tidak bisa dibedakan dari ribuan maupun jutaan atom lain yang menyusun “kerumunan kesepian”.
KONSTRUKSI REALITAS DI MEDIA DAN BUDAYA POPULER
Pertumbuhan kredit konsumen, ekspansi agen- agen seperti iklan, pemasaran, desain, dan kehu- masan, mendorong orang untuk mengonsumsi, serta lahirnya budaya populer modern yang memuja konsumerisme, hedonisme, dan gaya hidup.
Dalam proses ini, media jelas menjadi semakin penting. Bangkitnya bentuk-bentuk komunikasi massa modern maupun pengembangbiakan budaya media populer yang diasosiasikan sehingga menjadi hal penting dalam kerangka penjelasan teori pos- modern. Yang dapat disimpulkan dari sini adalah bahwa media massa telah menjadi hal utama bagi arus komunikasi dan informasi di dalam maupun di antara masyarakat-masyarakat modern (dan akibat- nya budaya populer yang mereka siarkan dan pro- mosikan semakin banyak menerangkan dan mem- perantarai kehidupan sehari-hari di dalam masyara- kat) bahawa mereka, bersama-sama dengan konsu- merisme, telah memenculkan ciri-ciri khas posmo- derisme.
Kebudayaan massa memainkan peran penting dalam mengintegrasikan kelas buruh dalam masyara- kat kapitalis serta kebudayaan konsumen dan media baru sedang menyusun model hegemoni kapitalis baru. Para pelanjut gagasan Gramsci dalam Cultural Studies tidak hanya memperhatikan budaya populer sebagai arena perjuangan ideologis, akan tetapi melihat lebih jauh perjuangan ideologis dan konflik di dalam masyarakat sipil sebagai arena sentral dalam politikbudaya.
Budaya pop, yang mendapat perhatian berlebih dalam kajian budaya, merupakan medan di mana kesadaran diperebutkan. Untuk memahami per- mainan bersama kekuasaan dan kesadaran, ada dua konsep yang dulu sering digunakan dalam teks-teks awal kajian budaya, meski kini tidak terlalu sering dipakai, yaitu ideologi dan hegemoni. Ideologi adalah peta-peta makna yang, meski berpretensi mengan- dung kebenaran universal, sebenarnya merupakan pengertian-pengertian yang spesifik secara historis yang menopengi dan melanggengkan kekuasaan. Misalnya, berita televisi terus menghasilkan penger- tian tentang dunia yang menjelaskan dunia dalam kerangka bangsa-bangsa, yang dianggap sebagai objek yang ada secara ‘alami’, mengaburkan baik pembagian-pembagian kelas dalam formasi sosial
100 NIRMANA, VOL.9, NO. 2, JULI 2007: 96-106
dan ketidakalamian kebangsaan yang merupakan suatu konstruksi (Barker, 2000:10). Representasi gender dalam iklan, yang menggambarkan perem- puan sebagai tubuh-tubuh seksi atau ibu rumah tangga semata, mereduksi perempuan ke dalam kategori-kategori itu, merampok mereka dari tempat- nya sebagai manusia dan warga negara. Proses pembuatan, mempertahankan dan reproduksi makna dan praktik-praktik kekuasaan disebut sebagai hegemoni. Hegemoni berkait dengan suatu situasi dimana ‘blok historis’ suatu kelompok yang berkuasa mendapatkan kewenangan dan kepemimpinan atas kelompok-kelompok subordinat dengan cara merebut memenangkan kesadaran.
Kebudayaan populer (popular culture) yang kemudian menciptakan dialektika antara homo- genisasi (penyeragaman) dan heterogenisasi (kera- gaman). Pertama, kebudayaan populer menawarkan keanekaragaman dan perbedaan ketika ia diinter- pretasi ulang oleh masyarakat yang berbeda di lain tempat. Kedua, kebudaya populer dipandang sebagai sekumpulan genre, teks, citra yang bermacam-macam dan bervariasi yang dapat dijumpai dalam berbagai media, sehingga sukar kiranya dapat dipahami dalam kriteria homogenitas dan standardisasi baku.
Kebudayaan popular akhirnya menjadi pembica- raan yang kompleks. Budaya populer adalah budaya yang lahir atas kehendak media. Artinya, jika media mampu memproduksi sebuah bentuk budaya, maka publik akan menyerapnya dan menjadikannya seba- gai sebuah bentuk kebudayaan. Populer yang kita bicarakan disini tidak terlepas dari perilaku konsumsi dan determinasi media massa terhadap publik yang bertindak sebagai konsumen. (Strinati, 2003)
Budaya populer muncul dan bertahan atas kehendak media (dengan ideologi kapitalis) dan perilaku konsumsi masyarakat. Dalam hal mempo- pulerkan suatu produk budaya, media berperan sebagai penyebar informasi sesuai fungsinya serta pembentuk opini publik yang kemudian berkembang menjadi penyeragaman opini dan selera. Akibatnya, apapun yang diproduksi oleh suatu media akan diterima oleh publik sebagai suatu nilai, dalam hal ini nilai kebudayaan. Masalahnya adalah, selama ini budaya populer hadir dengan stigma bahwa ia adalah sebuah budaya yang cendrung sekedar memuncukan pencitraan tanpa makna, bersifat dangkal dan tidak valuable. Kekuatan media dalam hal ini tidak lain adalah dalam mengkonstruksi realitas media yaitu sebuah realitas yang dikonstruksi berdasarkan sistem yang direkayasa oleh media tersebut dengan tujuan salah satunya adalah meraih keuntungan finansial dari publik yang mengkonsumsi semua jenis komoditi yang ditawarkan.
Dalam proses ini, media jelas menjadi semakin penting. Bangkitnya bentuk-bentuk komunikasi massa modern maupun pengembangbiakan budaya media populer yang diasosiasikan sehingga menjadi hal penting dalam kerangka penjelasan teori posmodern. Yang dapat disimpulkan dari sini adalah bahwa media massa telah menjadi hal utama bagi arus komunikasi dan informasi di dalam maupun di antara masyarakat-masyarakat modern (dan akibat- nya budaya populer yang mereka siarkan dan promosikan semakin banyak menerangkan dan memperantarai kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat) bahawa mereka, bersama-sama dengan konsumerisme, telah memenculkan ciri-ciri khas posmoderisme.
Perhatian Cultural Studies mengenai budaya populer berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut. Pertama, narasi Cultural Studies berupaya untuk mengeksplorasi bagaimana dan mengapa bentuk- bentuk budaya tertentu berkembang dan diterima dalam hubungan sosial kontemporer Kedua, narasi Cultural Studies berusaha mengeksplorasi bagaimana hegemoni kelompok dominan, posisi dan fungsinya dalam dunia produksi berkembang dan bergerak (Gramsci, 1971:12). Ketiga, asumsi tentang betapa perlunya untuk menyingkap bagaimana hubungan hegemoni yang baru bisa dipraktekkan di masa yang akan datang, bagaimana kelompok dan kelas subordinat bisa menjadi bagian dominan dan integral dari hegemoni yang baru. Keempat, sebagai kon- sekuensi tiga poin di atas adalah adanya kecen- derungan Cultural Studies untuk memberikan per- hatian pada persoalan politik praktis yang seringkali mengambil tindakan simpatik terhadap praktisi bu- daya yang dapat diidentifikasikan sebagai bentuk resistensi terhadap hubungan dominasi dan kepemim- pinan yang ada.
CULTURAL STUDIES SEBAGAI KAJIAN LINTAS DISIPLIN
Istilah kebudayaan dalam bahasa Inggris “cul- ture” secara umum memiliki dua pengertian berbeda. Pertama adalah pengertian kebudayaan sebagai belles letters, yang membedakan antara kebu-dayaan tinggi dengan kebudayaan rendah (populer, massa). Kedua, kebudayaan yang diartikan sebagai kebiasaan- kebiasaan khusus, adat istiadat dan pandangan dunia satu komunitas manusia. Konsep kebudayaan yang kedua lebih cocok dengan tema pembahasan ini, dimana “kebudayaan” selalu diklasifikasikan sepan- jang garis-garis geo-politik, kontinen, dan bangsa tertentu. Dari istilah “culture” diturunkan istilah “culturalism” (kulturalisme), multikulturalisme, dan
lain-lain. Istilah kulturalisme muncul dalam karya Richard Hoggart, Raymond Williams, E. P. Thompson, serta Stuart Hall pada akhir tahun 1950- an/1960-an, dan konsep ini digunakan para ahli sebagai konsep untuk Cultural Studies (Lubis & Akhyar, 2006:137).
Kajian budaya (cultural studies) sering disebut sebagai wilayah kajian lintas-disiplin, multi-disiplin, pasca-disiplin, atau anti-disiplin. Seringkali yang dimaksud dengan ‘lintas’, ‘multi’, ‘pasca’, atau ‘anti’ itu adalah sebuah fenomena pascamodern dalam dunia akademis tentang mengaburnya batas-batas antar-disiplin. Semua ini tentulah baik adanya, karena dari sudut pandang nominalis ‘disiplin’ sebenarnya hanyalah merupakan istilah untuk melegitimasi dan melembagakan metode dan medan minat sebuah kajian. Tetapi yang sering luput dan tidak hadir dalam perbincangan tentang lintas-disiplin dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora adalah bahwa gagasan lintas- disiplin dalam kajian budaya juga melibatkan ga- gasan tentang perlintasan antara teori dengan tinda- kan. Inilah pokok soal sesungguhnya yang membeda- kan kajian budaya dengan displin lainnya, yaitu hubungan kajian budaya dengan soal-soal kekuasaan dan politik, dengan keinginan akan perubahan dan representasi dari dan ‘untuk’ kelompok-kelompok sosial yang terpinggirkan, terutama kelompok kelas, gender dan ras (tapi juga kelompok usia, kecacatan, kebangsaan, dan sebagainya)
Kajian Cultural Studies dan multikulturalisme berkaitan dengan perkembangan budaya (sosial- politik) kontemporer seperti yang dikembangkan oleh Robert Nozik, Charles Taylor, Richard Rorty, Dworkin, Michael Sandel, John Rawls dan lain-lain. Jika dalam tradisi filsafat politik sebelumnya (tradisional) fokus perhatian para ahli umumnya tertuju path garis tunggal yang dirumuskan dalam aliran/gerakan “kiri” dan “kanan”: ‘kiri’ adalah gerakan yang percaya dan mengutamakan persamaan (equality,), karenanya mendukung sosialisme, semen- tara ‘kanan’ lebih menekankan path kebebasan (freedom), karena itu mendukung bentuk kapitalisme dan pasar bebas (free-market capitalism). Diantara kedua ekstrem ini lalu muncul sintesis dari tokoh liberal yang percaya path keduanya dengan mendu- kung kapitalisme Negara Kesejahteraan (welfare capitalism) (Lubis & Akhyar, 2006:139).
Kajian budaya merupakan bangunan teori yang dihasilkan oleh pemikir yang menganggap produksi pengetahuan teoritis sebagai suatu praktik politis. Di sini pengetahuan tidak pernah dipandang sebagai fenomena netral atau objektif, melainkan sebagai persoalan posisionalitas, persoalan dari mana, kepada siapa dan dengan tujuan apa seseorang bicara. Benar
bahwa sifat lintas-metode dan lintas-medan minat bisa dilihat sebagai sebuah ciri kajian budaya yang menonjol, tetapi pertanyaan tentang peran intelektual sesungguhnya merupakan persoalan yang lebih pokok dalam kajian budaya.
Dalam pengertian luas, konsep yang dikembang- kan oleh para ahli/ilmuwan inilah yang kemudian menjadi dasar bagi kajian budaya populer (popular culture) yang mulai berbeda dengan tradisi kajian “budaya dan peradaban” sebelumnya yang penulis sebut sebagai kajian budaya konvensional (modern). Stuart Hall dan Whannel dalam bukunya The Popular Arts melakukan kajian pada budaya populer, hal yang sama kemudian dilakukan pula oleh Pusat Studi Budaya Kontemporer di Universitas Birmingham. Perkembangan tahap kedua Cultural Studies Inggris ditandai dengan berdirinya Center for Contemporary Cultural Studies di Universitas Birmingham pada tahun 1970-an oleh Hoggart dan Stuart Hall. Kellner mengemukakan bahwa pen- dukung pusat studi itu memiliki banyak persamaan dengan gerakan dan pemikiran Mazhab Frankfurt. Pusat Cultural Studies ini mengembangkan beragam pendekatan kritis untuk analisis interpretasi dan kritik terhadap artefak kebudayaan (Kellner, dalam Lubis; Akhyar , 2006:141).
Konstruksi teori melibatkan pengkajian konsep dan argumen-argumen, seringkali juga pendefinisian- ulang dan mengkritik hasil kerja sebelumnya, untuk mencari alat-alat baru yang digunakan untuk berpikir/memahami dunia. Hal ini mendapat tempat yang tinggi dalam kajian budaya. Pengkajian teoretis bisa dianggap sebagai peta-peta kultural yang menjadi panduan kita. Kajian budaya menolak klaim para empirisis bahwa pengetahuan hanyalah masalah mengumpulkan fakta yang digunakan untuk men- deduksi atau menguji teori. Teori dipandang sudah selalu implisit dalam penelitian empiris melalui pemilihan topik, fokus riset dan konsep-konsep yang dipakai untuk mendiskusikan dan menafsirkannya. Dengan kata lain, ‘fakta’ tidaklah netral dan tidak ada tumpukan ‘fakta’ yang bisa menghasilkan kisah tentang hidup kita tanpa teori. Bahkan, teori adalah kisah tentang kemanusiaan yang punya implikasi untuk tindakan dan penilaian-penilaian tentang konsekuensi.
Kajian budaya ingin memainkan peran demistifi- kasi, untuk menunjukkan karakter terkonstruksi teks- teks kebudayaan dan berbagai mitos dan ideologi yang tertanam di dalamnya, dengan harapan bisa melahirkan posisi-posisi subjek, dan subjek-subjek sungguhan, yang mampu melawan subordinasi. Sebagai sebuah teori yang politis, kajian budaya berharap dapat mengorganisir kelompok-kelompok oposisi yang berserak menjadi suatu aliansi politik
Tanudjaja, Pengaruh Media Komunikasi Massa terhadap Popular Culture
101
102 NIRMANA, VOL.9, NO. 2, JULI 2007: 96-106
kebudayaan. Meski demikian, Bennet (1992) me- ngatakan bahwa kebanyakan politik tekstual yang dihasilkan kajian budaya (a) tidak berkaitan dengan banyak orang dan (b) mengabaikan dimensi insti- tusional kekuasaan kultural. Karena itu ia mendorong kajian budaya untuk mengadopsi pendekatan yang lebih pragmatis dan bekerja dengan para produser kebudayaan dalam konstruksi dan penerepan kebija- kan kultural (Bennet, 1992).
Meski sulit didefinisikan, namun ada beberapa karakteristik yang dapat dikemukakan untuk meng- identifikasi apa. yang disebut Cultural Studies itu. Yaitu antara lain:
Cultural Studies bertujuan meneliti/mengkaji berbagai kebudayaan dan praktik budaya serta kaitannya dengan kekuasaan. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan dimensi kekuasaan dan bagai- mana kekuasaan itu mempengaruhi berbagai bentuk kebudayaan (sosial-politik, ekonomi, ilmu pengeta- huan, hukum dan lain-lain. Bandingkan dengan konsep kuasa dan pengetahuan, kuasa dan kebenaran pada Foucault, kuasa dan kepentingan pada Habermas).
Cultural Studies tidak membahasakan kebuda- yaan yang terlepas dari konteks sosial-politik, akan tetapi mengkaji masalah budaya dalam konteks sosial-politik dimana masalah kebudayaan itu tumbuh dan berkembang.
Dalam Cultural Studies budaya dikaji baik dari aspek obyek maupun lokasi tindakan selalu dalam tradisi kritis, maksudnya kajian itu tidak hanya bertujuan merumuskan teori-teori (intelektual), akan tetapi juga sebagai suatu tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris (Bandingkan dengan teori kritis Mazhab Frankfurt).
Cultural Studies berupaya mendemonstrasi (membongkar, mendobrak) aturan-aturan, dan peng- kotak-kotakan ilmiah konvensional, lalu berupaya mendamaikan pengetahuan yang objektif,-subjektif (intuitif), universal lokal. Cultural Studies bukan hanya memberikan penghargaan pada identitas bersama (yang plural), kepentingan bersama, akan tetapi mengakui saling keterkaitan dimensi subjek (tivitas) dan objek(tivitas) dalam penelitian.
Cultural Studies tidak merasa harus steril dari nilai-nilai (tidak bebas nilai) akan tetapi melibatkan diri dengan nilai dari pertimbangan moral masyarakat modern serta tindakan politik dan konstruksi sosial. Dengan demiklan Cultural Studies bukan hanya bertujuan memahami realitas masyarakat atau buda- ya, akan tetapi merubah struktur dominasi, struktur sosial-budaya yang menindas, khususnya dalam masyarakat kapitalis-industrial (Sardar & Van Loon, 2001:9).
MENCARI KEBENARAN DALAM MEDAN CULTURAL STUDIES
Penelitian teori Cultural Studies dan multikul- turalisme bersifat multiperspektif, dan seorang pene- liti dapat saja mengambil sudut pandang tertentu dalam melakukan penelitian atau menggabungkan komponen-komponen identitas: ras, kelas, rasiona- litas. Pluralitas perspektif dalam penelitian Cultural Studies dan multikulturalisme adalah penelitian yang dilakukan dan sudut pandang atau perspektif (stand- point) tertentu (Longino, 1993). Penelitian seperti inilah. yang oleh kaum posmodernis disebut sebagai penelitian yang bersifat lokal dengan hasilnya berupa narasi-narasi kecil. Kebenaran dianggap sebagai produksi dalam permainan bahasa dimana kebenaran itu didasarkan aspek lokalitas (Lubis & Akhyar, 2006:184).
Mempertanyakan Identitas Kultural
Dalam kajian budaya identitas dipandang bersifat kultural dan tidak punya keberadaan di luar repre- sentasinya dalam wacana kultural. Identitas bukan sesuatu yang tetap yang bisa kita simpan, melainkan suatu proses menjadi. Etnisitas, ras dan nasionalitas adalah konstruksi-konstruksi diskursif-performatif yang tidak mengacu pada ‘benda-benda’ yang sudah ada. Artinya, etnisitas, ras dan nasionalitas merupa- kan kategori-kategori kultural yang kontingen dan bukan ‘fakta’ biologis yang universal. Sebagai kon- sep, etnisitas mengacu pada pembentukan dan pelanggengan batas-batas kultural dan punya keung- gulan dalam penekanannya pada sejarah, budaya dan bahasa.
Ras adalah sebuah gagasan yang problematis karena asosiasinya dengan wacana biologis tentang superioritas dan subordinasi yang intrinsik dan tak terhindarkan. Meski demikian, konsep rasialisasi atau pembentukan ras punya kegunaan karena menekan- kan pada kekuasaan, kontrol dan dominasi. Ide tentang identitas, ras, etnisitas dan bangsa mesti dilihat dalam kerangka saling bersandarnya yang satu pada lainnya, seperti dalam hal kemurnian etnis suatu bangsa yang dihipotesiskan oleh wacana nasionalis, atau peran yang dimainkan metafora gender dalam konstruksi tentang bangsa, ibu pertiwi, dan sebagai- nya (Hall, 1992).
Seks, Gender, dan Representasi
Dalam kajian budaya, seks dan gender dilihat sebagai konstruksi-konstruksi sosial yang secara intrinsik terimplikasi dalam persoalan-persoalan representasi. seks dan gender lebih merupakan persoalan kultural ketimbang alam. Meski ada juga
pemikiran feminis yang menekankan pada perbedaan esensial antara laki-laki dan perempuan, kajian budaya cenderung mengeksplorasi gagasan tentang karakter identitas seksual yang spesifik secara historis, tidak stabil, plastis dan bisa berubah. Tapi bukan berarti kita bisa dengan gampang membuang identitas seksual kita dan menggantinya dengan yang lain, karena meskipun seks adalah suatu konstruksi sosial, ia adalah konstruksi sosial yang mengkonsti- tusi kita melalui tekanan-tekanan kekuasaan dan identifikasi-identifikasi dalam psikis kita. Dengan kata lain, konstruksi sosial adalah sesuatu yang diregulasi dan memiliki konsekuensi.
Karena identitas seksual dipandang bukan merupakan masalah esensi biologis yang universal melainkan persoalan bagaimana feminitas dan maskulinitas dibicarakan, maka feminisme dan kajian budaya seharusnya memberi perhatian pada masalah- masalah seks dan representasi. Umpamanya, kajian budaya telah mempelajari representasi perempuan dalam budaya populer dan dalam sastra, dan men- dapatkan bahwa perempuan di seluruh dunia ter- konstitusi sebagai kelamin yang kedua, tersubordinasi di bawah lelaki. Dengan kata lain, posisi-posisi subjek yang dikonstruksi untuk perempuan yang menempatkan mereka dalam tatanan kerja patriarkis domestifikasi dan beautification atau tatanan kerja yang menjadikan mereka sebagai ibu dan berkarir serta mampu mengeksplorasi individualitasnya dan tampil menarik. Perempuan di masyarakat-masyara- kat pascakolonial mengusung beban ganda karena tersubordinasi oleh kolonialisme sekaligus kaum laki- laki pribuminya. Meski demikian, ada kemungkinan untuk menggoyang stabilitas representasi-representasi tubuh yang terkelaminkan ini (dalam kasus Madonna umpamanya), karena meski teks memang meng- konstruksi posisi subjek, bukan berarti semua lelaki atau perempuan mengambil posisi-posisi yang ditawarkan. Kajian-kajian resepsi menekankan pada negosiasi yang terjadi antara subjek dengan teks, termasuk kemungkinan melakukan resistensi terha- dap makna tekstual. Kajian-kajian inilah yang sering merayakan nilai-nilai dan budaya menonton perem- puan (Giddens, 1992).
Televisi, Penonton, dan Konstruksi Ideologis
Sudah lama televisi mendapat perhatian dalam kajian budaya karena kedudukan sentralnya dalam praktik komunikasi masyarakat modern. Perhatian ini menjadi makin kuat seiring pergeseran televisi global dari jasa penyiaran publik menjadi televisi komersial yang didominasi perusahaan-perusahaan multimedia dalam pencarian mereka akan sinergi dan konver- gensi. Mengglobalnya institusi-institusi televisi di-
barengi oleh peredaran global narasi dan genre-genre utama televisi, seperti berita, opera sabun, televisi musik, olahraga dan permainan-permainan, yang disetel dalam kerangka budaya ‘promosional’ dan postmodern, ditandai oleh adanya brikolase, inter- tekstualitas dan kaburnya genre.
Kajian budaya juga menaruh perhatian pada konstruksi ideologis program-program televisi, se- perti versi-versi hegemonik berita dunia yang menyingkirkan perspektif-perspektif alternatif. Meski demikian, program televisi juga dipandang bersifat polisemik; memuat berbagai makna yang biasanya kontradiktif. Ini memungkinkan audiens meng- eksplorasi beragam makna potensial. Bukti-bukti juga telah menunjukkan bahwa audiens adalah pencipta makna yang aktif dan tidak begitu saja mengambil makna-makna tekstual yang ditemukan oleh para kritikus.
Pentingnya televisi tidak bisa dibatasi pada makna-makna tekstual karena televisi ditempatkan dan dialami dalam aktivitas hidup sehari-hari. Meski ekonomi politik dan arus program televisi memang bersifat global, aktivitas menonton televisi ter- situasikan dalam praktik-praktik domestik sehari-hari (Lull, J., 1991).
Subkultur: Remaja dan Perlawanan
Meskipun lebih jarang dibahas bila dibandingkan dengan kelas, gender dan ras, usia adalah patokan klasifikasi dan stratifikasi sosial yang penting. Gambaran-gambaran tentang masa anak-anak, re- maja, dewasa, lanjut usia, pensiunan, dan seterusnya, merupakan kategori-kategori identitas yang mengan- dung berbagai konotasi mengenai kemampuan dan tanggung jawab. Remaja adalah klasifikasi kultural dari suatu rentang usia yang elastis yang dikodekan secara ambigu oleh orang dewasa sebagai indikasi ‘masalah’ dan ‘kesenangan’. Orang muda mengu- sung harapan-harapan orang dewasa untuk masa depan sekaligus menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran.
Karya-karya awal kajian budaya Inggris melihat subkultur muda yang spektakuler sebagai manifestasi perlawanan simbolik terhadap tatanan kelas yang berkuasa. Subkultur dianggap menawarkan solusi- solusi magis bagi persoalan-persoalan struktural kelas. Ada tiga alat analitik penting: (a) konsep homologi, di mana benda-benda simbolik subkultural dianggap sebagai ekspresi dari keprihatinan dan posisi-posisi struktural tersembunyi kelompok- kelompok muda; (b) brikolase, di mana simbol- simbol yang sebelumnya tidak terkait kemudian dipadukan untuk menciptakan makna-makna baru; dan (c) gaya, suatu brikolase simbol.
Pengaruh Media Komunikasi Massa terhadap Popular Culture untuk suatu ekspresi yang koheren dan bermakna (Hebdige, 1979).
Cultural Policy
Politik kebudayaan merupakan kekuasaan untuk menamai dan merepresentasi dunia, di mana bahasa bersifat konstitutif bagi dunia dan menjadi panduan untuk bertindak. Politik kebudayaan bisa dipahami sebagai serangkaian pergulatan kolektif yang dior- ganisir di seputar kelas, gender, ras, seksualitas, usia, dan lain-lain, yang hendak mendeskripsikan ulang dunia sosial berdasar nilai-nilai tertentu dan untuk mencapai konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan (Cunningham, 1992).
KESIMPULAN
Cultural Studies dan multikulturalisme adalah kajian yang berbeda dengan kajian budaya modern, karena Cultural Studies dan multikulturalisme didasarkan pada epistemologi pascapo (Teori Kritis, posstrukturalisme dan posmodernisme). Cultural Studies adalah kajian yang melintasi batas-batas disiplin, sebagaimana dilakukan Habermas dan Pierre Bourdieu. Para pendukungnya (ahlinya) banyak tertarik meneliti budaya populer, media massa serta sistem ekonomi dan sosial-budaya yang dominan. Kemudian berupaya untuk mengkritik dan mende- konstruksi dominasi, hegemoni, serta bias rasisme, negara, kelas, serta gender yang terdapat dalam masyarakat/budaya tersebut. Bennet menyatakan bahwa Cultural Studies adalah kajian yang menekan- kan keterkaitan budaya dengan masalah sosial dan kehidupan sehari-hari (budaya populer).
Masyarakat plural tidak sama dengan masyarakat yang multikultural meskipun sama-sama berhu- bungan dengan budaya yang beranekaragam. Namun pada masyarakat multikultural terjadi saling pengaruh dan interaksi yang intens antar budaya. Multikul- turalisme adalah masyarakat yang menerima perbe- daan, persamaan, keadilan, kesederajatan, dialog, dan solidaritas. Dalam masyarakat multikultural perbeda- an dilihat seperti mozaik yang semakin memperindah kehidupan satu masyarakat. Ben Agger menyatakan bahwa multikulturalisme adalah versi paling politis dari posmodernisme. Kiranya cukup jelas bahwa multikulturalisme sangat dijiwai oleh posmodernisme serta ideologi neoliberal sebagai dasar bagi perspektif multikultural (polivokal).
Dalam masyarakat plural dan multikultural selalu diharapkan adanya kemungkinan masyarakat untuk membangun kepentingan bersama. Karena itu pengakuan atas hak dan kedudukan sebagai warga negara dan keragaman kepentingan (plurality of interest) harus menjadi pertimbangan utama dalam merumuskan satu kebijakan public/politik, sehingga kebijakan itu diharapkan baik untuk semua pihak. Karena itu dialog, sikap kritis, solidaritas, toleransi, keadilan, kebersamaan, harus dikembangkan di tengah-tengah masyarakat multikultural (Lubis & Akhyar, 2006:184-188).
Kearifan cultural studies akan menggiring kepada pemahaman bahwa setiap era (age), lokalitas, dan konteks masyarakat memiliki libido sosial yang tidak seragam. Pencapaian pemahaman tinggi (verstehen) dapat terjadi jika kita dengan lunak mencerdasi setiap fenomena sosial melalui sebuah format ingin tahu, meneliti, dan berbicara sebagai subyek pelaku, bukan malah berprasangka, menuduh, membangun stigma dan stereotipe.
Cultural studies mungkin menjadi salah satu jalan menuju pengalaman estetik dari "seni pene- muan" (art of discovery) pengetahuan yang kita lakukan. Pekerjaan seni penemuan harus berinterseksi dengan kelompok-kelompok sosial yang ada seperti pihak kampus, aktivis lapangan, LSM, penerbitan, lembaga-lembaga penelitian, dan media massa. Kesa- daran berkomunikasi akan mampu menjauhkan seseorang dari kekeringan wacana ketika berbicara tentang manusia dan sejarahnya (Fasya, 2002).
DAFTAR PUSTAKA
Albarran, Alan D. (1996). Media Economics: Understanding Markets, Industries, and Concepts. Ames: Iowa State University Press,
Barker, Chris. (2000). Cultural Studies: Theory and Practice. London: Sage.
Bennet, Tonny. (1992). “Putting policy into Cultural Studies”, dalam L. Grossberg, C. Nelson & P. Treichler (eds.). Cultural Studies. London- New York: Routledge.
Clifford, J. & Marcus, G. (eds.). (1986). Writing Culture.Berkeley:Univ.of CaliforniaPress.
Cunningham, S. (1992). “The Cultural Policy Debate Revisited”, Meanjin, 51 (3).
Fasya, Teuku Kemal. (2002). Cultural Studies" dan Masa Depan Ilmu Humaniora Baru, Kompas, opini, Kamis, 22 Agustus 2002.
Featherstone, Mike. (2005). Posmodernisme dan Budaya Konsumen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Braudillard, Jean. (2004). Masyarakat Konsumsi,
Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Tanudjaja, Pengaruh Media Komunikasi Massa terhadap Popular Culture
105
Fertobhades, Gebyar Idola: Makanan Instan Budaya Pop, Rabu 6 September 2006 http://fertobhades.wordpress.com/2006/09/06/ gebyar-idola-makanan-instan-budaya-pop/
Geertz, C.(1973). The Interpretation of Culture. New York: Basic Books.
Giddens, Anthony. (1992). The Transformatins of Intimacy. Cambridge: Polity Press.
Gramsci, Antonio. (1971). Selections From Prison Notebooks. London: Laurence and Wishart.
Hall, Stuart. (1981). “Encoding/Decoding”, dalam Stuart Hall, A. Lowe, dan Paul Willis (eds.), Culture, Media, Language. London: Hutchinson.
Hall, Stuart. (1992). “The Questions of Cultural Identity”, dalam S. Hall, D. Held & T.McGrew (eds.). Modernity and Its Futures. London: Edward Arnold.
Hebdige, Dick. (1979). Subculture: The Meaning of Style. London: Routledge.
Lubis, Akhyar Yusuf. (2006). Dekonstruksi Epistemologi Modern, Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme Hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.
Lull, J. (1991). China Turned On: Television, Reform and Resistance. London: Routledge.
Majalah Filsafat Driyarkara.(1997).Tahun XXIII, No. 1. Jakarta: Seksi Publikasi Senat Mahasiswa STF Driyarkara.
Marcuse, Herbert. (2000). Manusia Satu Dimensi. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
McQuail, Denis & Sven Windahl. (1993). Commu- nication Models for the Study of Mass Communication, 2nd Edition. London: Longman,
McQuail, Denis. (1994). Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.
Rorty, Richard. (1989). Contingency, Irony and Solidarity. Cambridge: Cambridge Univ. Press.
Sardar, Ziauddin & Van Loon, Bonn. (2001).Cultural Studies For Beginners (Terj. Alfatri Aldin). Bandung: Penerbit Mizan,
Sudarminta, J. (2002). Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius.
Todorov, T. (1977). The Poetics of Prose. Ithaca: Cornell Univ. Press.
Wuryanta, AG. Eka Wenats & Handayani, Mediana (2006). Konsumtivisme dan
Hedonisme Media Massa. Friday, March 31, 2006. http://ekawenats.blogspot.com/2006_03_26_ar chive.html
Subscribe to:
Comments (Atom)



